Materi 12.3 PEMANFAATAN PETA, PENGINDRAAN JAUH, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Pada Materi Kelas 10 (Baca: Materi 10.2 PENGETAHUAN DASAR PEMETAAN) telah di terangkan dasar-dasar memahami peta, pengindraan jauh, dan sistem informasi geografi (SIG). Pada materi kali ini akan dibahas lebih dalam dan lebih praktis tentang pemanfaatan peta, pengindraan jauh, juga SIG sebagai basis analisis pada bidang tertentu. Peta dan pengindraan jauh pada bidang transportasi dan tata guna lahan. SIG pada bidang potensi wilayah dan kesehatan lingkungan.

Interpretasi peta dan pengolahan citra pengindraan jauh terkait jaringan transportasi dan tata guna lahan

PETA RENCANA KAWASAN BUDIDAYA, PROV. BANTEN
PETA RENCANA KAWASAN BUDIDAYA, PROV. BANTEN

SUMBER: Bapeda Prov. Banten

Jaringan Transportasi Dan Tata Guna Lahan

Masalah transportasi atau perhubungan merupakan masalah yang selalu dihadapi oleh negara-negara yang telah maju dan juga oleh negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia baik di bidang transportasi perkotaan (urban) maupun transportasi antar kota (regional). Terciptanya suatu sistem transportasi atau perhubungan yang menjamin pergerakan manusia atau barang secara lancar, aman, cepat, murah dan nyaman merupakan tujuan pembangunan di sektor perhubungan (transportasi).

Istilah tata-guna lahan (land use) berawal dari ilmu ekonomi pertanian. Istilah ini mengacu pada sebidang lahan dan manfaat ekonomi yang dimiliki oleh lahan tersebut- peternakan, pembudidayaan tanaman, pertambangan, atau pembangunan gedung.

Standar pembagian ruang dalam tata guna lahan biasanya mengacu ada zona. Pembagian zona adalah peranti hukum yang tertua dan paling banyak digunakan untuk implementasi rencana tata-guna lahan setempat. Pada dasarnya pembagian zona adalah suatu jaminan bahwa tata-guna lahan dalam suatu unit geografis sesuai dengan zona lainnya.

Transportasi dan tata guna lahan berhubungan sangat erat, sehingga biasanya dianggap membentuk satu land use transport system. Agar tata guna lahan dapat terwujud dengan baik maka kebutuhan transportasinya harus terpenuhi dengan baik. Sistem transportasi yang macet tentunya akan menghalangi aktivitas tata guna lahannya. Sebaliknya, transportasi yang tidak melayani suatu tata guna lahan akan menjadi sia-sia, tidak ter manfaatkan.

Konsep yang mendasari hubungan antara tata-guna lahan dan transportasi adalah aksesibilitas. Dalam konteks yang paling luas, aksesibilitas berarti kemudahan melakukan pergerakan di antara dua tempat. Aksesibilitas meningkat dari sisi waktu atau uang ketika pergerakan menjadi lebih murah. Selain itu, kecenderungan untuk berinteraksi juga akan meningkat ketika biaya pergerakan menurun.

Hubungan antara transportasi dan pengembangan lahan dapat dijelaskan dalam tiga konteks, yaitu:

  1. hubungan fisik dalam skala makro, yang memiliki pengaruh jangka panjang dan umumnya dianggap sebagai bagian dari proses perencanaan;
  2. hubungan fisik dalam skala mikro, yang memiliki pengaruh jangka-pendek dan jangka-panjang dan umumnya dianggap sebagai masalah desain wilayah perkotaan (sering kali pada skala lokasi-lokasi atau fasilitas-fasilitas tertentu);
  3. hubungan proses, yang berhubungan dengan aspek hukum, administrasi, keuangan, dan aspek-aspek institusional tentang pengaturan lahan dan pengembangan transportasi.

Jaringan jalan terdiri dari banyak jalan terdiri dari jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal, yang membentuk suatu sistem jaringan jalan secara keseluruhan. Jaringan jalan memiliki fungsi yang sangat penting dalam meningkatkan kelancaran pelayanan transportasi dari berbagai tempat asal menuju ke berbagai tempat tujuan yang tersebar di berbagai pelosok wilayah.

Pola jaringan transportasi yang serasi dengan kebutuhan pelayanan pergerakan lalu lintas manusia dan barang secara berkapasitas, akan mampu memenuhi penyelenggaraan pelayanan transportasi secara kesisteman, bertujuan meningkatkan kelancaran lalu lintas, membantu mewujudkan sistem logistik nasional secara mantap, mendorong pengembangan wilayah, dan memperkukuh kehidupan masyarakat dalam kerangka perwujudan Wawasan Nusantara.

Penyusunan jaringan transportasi yang mantap harus memperhatikan dan memperhitungkan banyak aspek, misalnya:

  1. distribusi penduduk dan kegiatan pembangunan sektoral yang tersebar di berbagai daerah;
  2. rencana pemanfaatan tata ruang wilayah yang telah ditetapkan;
  3. kebutuhan jasa transportasi antar wilayah dan pusat kegiatan (kota);
  4. penyediaan jumlah dan kapasitas sarana transportasi;
  5. karakteristik dan klasifikasi jaringan jalan menurut fungsinya (jalan arteri, kolektor dan lokal); dan
  6. strategi kebijakan dan perencanaan pembangunan nasional dan regional.

Perencanaan pembangunan jaringan transportasi bersifat dinamis dan antisipatif ke depan, melibatkan peran serta berbagai instansi yang terkait.

Mengingat sangat pentingnya peranan dan fungsi jaringan transportasi (jalan) dalam menunjang pergerakan lalu lintas manusia dan barang serta pembangunan secara efektif dan efisien, maka perlu dilakukan perencanaan dan analisis konseptual dan theoretical secara reliable dan implementable.

Fungsi sektor transportasi sangat penting dalam pembangunan, yaitu:

  1. sebagai penunjang terhadap peningkatan kegiatan pada sektor-sektor lain, dan
  2. sebagai pendorong untuk membuka kuterisolasikan daerah-daerah.

Transportasi merupakan kekuatan yang membentuk wajah dan perkembangan suatu daerah atau wilayah dalam jangka panjang mendatang (transportation as the formative power).

Pembangunan sektor transportasi diarahkan pada terwujudnya Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS) yang handal dan berkemampuan tinggi dan diselenggarakan secara efektif dan efisien. Dalam PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM. 49 TAHUN 2005 TENTANG SISTEM TRANSPORTASI NASIONAL (SISTRANAS), dijelaskan bahwa:

Sistranas adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara, serta transportasi pipa, yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana, kecuali pipa, yang saling berinteraksi dengan dukungan perangkat lunak dan perangkat pikir membentuk suatu sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien, berfungsi melayani perpindahan orang dan atau barang, yang terus berkembang secara dinamis.

Sistem Transportasi Nasional diarahkan pada terwujudnya keseimbangan antara permintaan jasa transportasi dan tersedianya kapasitas fasilitas transportasi. Untuk itu diperlukan perencanaan pembangunan transportasi yang komprehensif, lintas sektoral dan lintas regional, serta bersifat jangka panjang. Peramalan permintaan jasa transportasi digunakan untuk menghitung pertumbuhan kegiatan ekonomi dan peningkatan permintaan jasa transportasi masa depan, yang harus diikuti oleh pertumbuhan dalam penyediaan kapasitas fasilitas transportasi agar supaya pelayanan transportasi terselenggara secara lancar, aman dan terjangkau.

Strategi perencanaan pembangunan investasi transportasi dapat dilakukan mendahului permintaan (demand follows supply) yang bersifat keperintisan, untuk membuka daerah terisolasi. Sebaliknya, adalah strategi supply follows demand dilakukan untuk daerah-daerah yang sudah tersedia permintaan jasa transportasi. Kedua strategi perencanaan pembangunan tersebut dapat dianalogikan dengan semboyan dalam bidang pelayanan, yaitu (1) trade follows ship, dan (2) ship follows trade.

Moda Transportasi

Jaringan transportasi dapat dibentuk oleh moda transportasi jalan, kereta api, sungai dan danau, penyeberangan, laut, udara, dan pipa. Masing-masing moda memiliki karakteristik teknis yang berbeda, pemanfaatannya disesuaikan dengan kondisi geografis daerah layanan.

Moda transportasi jalan mempunyai karakteristik utama yakni fleksibel, dan mampu memberikan pelayanan dari pintu ke pintu.

Moda transportasi kereta api memiliki keunggulan yaitu daya angkut tinggi, polusi rendah, keselamatan tinggi, dan hemat bahan bakar.

Moda transportasi sungai dan danau mempunyai karakteristik kecepatan rendah dan murah dengan tingkat polusi rendah.

Moda transportasi penyeberangan mempunyai karakteristik mampu mengangkut penumpang dan kendaraan dalam jumlah besar serta kecepatan relatif rendah dengan tingkat polusi rendah.

Moda transportasi laut mempunyai karakteristik mampu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar, kecepatan rendah dan jarak jauh dengan tingkat polusi rendah.

Moda transportasi udara mempunyai karakteristik kecepatan tinggi dan dapat melakukan penetrasi sampai ke seluruh wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh moda transportasi lain.

Moda transportasi pipa tidak digunakan untuk transportasi umum, sifat pelayanannya terbatas hanya untuk angkutan komoditas curah cair dan gas, dengan sifat pergerakan hanya satu arah.

Jaringan transportasi

Jaringan transportasi terdiri dari jaringan prasarana dan jaringan pelayanan. Jaringan prasarana terdiri dari simpul dan ruang lalu lintas. Keterpaduan jaringan prasarana moda-moda transportasi mendukung penyelenggaraan transportasi antarmoda atau multimoda dalam penyediaan pelayanan angkutan yang berkesinambungan. Simpul transportasi merupakan media alih muat yang mempunyai peran yang sangat penting dalam mewujudkan keterpaduan dan kesinambungan pelayanan angkutan. Jaringan pelayanan transportasi antarmoda atau multimoda meliputi pelayanan angkutan penumpang dan atau barang.

Jaringan prasarana transportasi jalan terdiri dari simpul, yang berwujud terminal penumpang dan terminal barang, dan ruang lalu lintas yang berupa ruas jalan yang ditentukan hirarkinya menurut peranannya. Pembagian setiap ruas jalan pada jaringan jalan primer terdiri dari:

  1. jalan arteri primer, menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan nasional, atau antara pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan wilayah;
  2. jalan kolektor primer, menghubungkan secara berdaya guna antarpusat kegiatan wilayah, atau menghubungkan antara pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lokal;
  3. jalan lokal primer, menghubungkan secara berdaya guna pusat kegiatan nasional dengan pusat kegiatan lingkungan atau pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan lingkungan atau pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lokal, pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan, dan antarpusat kegiatan lingkungan;
  4. jalan lingkungan primer, menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan.

Jalan umum menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa.

  1. Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antaribukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
  2. Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antaribukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
  3. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, atau antaribukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan PKL, antar-PKL, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
  4. Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota.
  5. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Jalan juga dibagi dalam beberapa kelas didasarkan pada kebutuhan transportasi, pemilihan moda transportasi yang sesuai karakteristik masing-masing moda, perkembangan teknologi kendaraan bermotor, muatan sumbu terberat kendaraan bermotor, serta konstruksi jalan. Pembagian kelas jalan dimaksud, meliputi jalan kelas I, kelas II, kelas III A, kelas III B, dan kelas III C.

Jenis JalanSpesifikasi
Jalan Kelas I Jalan kelas I adalah jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih besar dari 10 ton. 
Jalan Kelas II Jalan kelas II adalah jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 10 ton. 
Jalan Kelas III A "Jalan kelas III A adalah jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton." 
Jalan Kelas III B Jalan kelas III B adalah jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan sumbu terberat yang diizinkan 8 ton. 
Jalan Kelas III C Jalan kelas IIIC adalah jalan lokasi yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 milimeter, dan sumbu muatan terberat yang diizinkan 8 ton. 

Sumber: BPS DKI Jakarta

Jaringan pelayanan angkutan umum meliputi pelayanan angkutan orang dan atau barang.

Jaringan prasarana transportasi kereta api terdiri dari simpul yang berwujud stasiun, dan ruang lalu lintas yang berupa jalur kereta api.

Jaringan pelayanan transportasi kereta api meliputi jaringan pelayanan angkutan orang dan atau barang.

Jaringan prasarana transportasi sungai dan danau terdiri dari simpul yang berwujud pelabuhan sungai dan danau, dan ruang lalu lintas yang berwujud alur pelayaran. Jaringan pelayanan transportasi sungai dan danau meliputi jaringan pelayanan angkutan orang dan atau barang.

Jaringan prasarana transportasi penyeberangan terdiri dari simpul yang berwujud pelabuhan penyeberangan, dan ruang lalu lintas yang berwujud alur penyeberangan. Jaringan pelayanan transportasi penyeberangan disebut lintas penyeberangan.

Jaringan prasarana transportasi laut terdiri dari simpul yang berwujud pelabuhan laut, dan ruang lalu lintas yang berwujud alur pelayaran. Jaringan pelayanan transportasi laut dibedakan menurut hirarki dan sifat pelayanannya.

Jaringan prasarana transportasi udara terdiri dari bandar udara sebagai simpul, dan ruang lalu-lintas udara. Jaringan pelayanan transportasi udara terdiri dari rute penerbangan dalam negeri dan rute penerbangan luar negeri.

Jaringan transportasi pipa terdiri dari jaringan utama, jaringan pengumpan, dan jaringan distribusi. Jaringan transportasi pipa dibangun oleh industri tertentu sebagai alat transportasi yang penggunaannya khusus untuk kepentingan industri tersebut. Jaringan transportasi pipa tidak dapat dipisahkan antara jaringan prasarana dan jaringan pelayanannya.

Tata Guna Lahan

Kaiser et al (1995: 196) menguraikan beberapa perspektif yang harus diperhatikan dalam memahami penggunaan lahan (land use), antara lain:

  1. Lahan adalah ruang fungsional yang diperuntukkan untuk mewadahi beragam penggunaan. Dalam perspektif ini lahan mengakomodasi pertumbuhan kawasan yang didorong oleh pertumbuhan penduduk dan ekspansi ekonomi. Meningkatnya jumlah penduduk dan ekspansi ekonomi meningkatkan kompleksitas fungsi kawasan, sebagai contoh: kawasan pedesaan dengan penduduk relatif sedikit hanya didominasi kegiatan agraria dan beberapa fungsi pendukung agraria (koperasi, perdagangan bibit dan obat-obatan, dan lain-lain) serta fungsi pendukung permukiman (puskesmas, sekolah dasar sampai menengah, dan lain sebagainya) Bandingkan dengan kawasan perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi dan jasa, dimana pada kawasan ini populasi penduduk sangat tinggi yang mendorong efisiensi penggunaan lahan untuk bermacam kegiatan ekonomi. Kegiatan agraria yang membutuhkan lahan luas semakin sedikit (bahkan mungkin tidak ada), digantikan oleh kawasan industri, pusat-pusat perdagangan, pendidikan dan perkotoran yang cakupan layanan (operasinya) membawahi beberapa desa di sekitarnya. Dengan demikian, kawasan perkotaan memiliki kompleksitas yang lebih tinggi daripada desa dimana ada beberapa fungsi pendukung kehidupan masyarakat pedesaan juga ditempatkan di kawasan perkotaan, seperti perguruan tinggi, rumah sakit, dan lain sebagainya. Pelayanan fasilitas umum kawasan perkotaan secara hirarkis dapat dipelajari dari SNI 03-1733-2004 tentang tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan.
  2. Lahan sebagai setting dari sistem aktivitas. Kompleksitas fungsi kawasan sebagaimana dijelaskan di atas terjadi karena adanya sistem aktivitas yang menggambarkan pola kegiatan penghuni kawasan dalam menjalankan urusan hariannya. Disebut sistem karena ada pola saling keterhubungan antara aktivitas yang satu dengan aktivitas lainnya yang kemudian memicu timbulnya aktivitas pergerakan. Sebagai contoh: lahan dengan fungsi perumahan memiliki interaksi yang tinggi dengan lahan dengan fungsi pendidikan, kesehatan, perdagangan dan fungsi jasa (perkantoran). Hal ini disebabkan kawasan perumahan yang mendukung pemenuhan kebutuhan berhuni harus didukung oleh kawasan-kawasan yang mendukung penduduk untuk memenuhi kebutuhan harian yaitu membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga, menjalankan profesi, kesehatan serta kegiatan pendukung lainnya (misalnya rekreasi, dan lain sebagainya). Dalam menjalankan kegiatan harian, warga tentu melakukan kegiatan “ulang alik” dari tempat berhuni ke kawasan-kawasan lainnya yang sudah tentu memicu adanya aktivitas pergerakan yang harus didukung oleh sistem transportasi. Beban yang ditanggung oleh sistem transportasi ini ditentukan oleh volume pergerakan, waktu terjadinya pergerakan, jarak dan ketersediaan infrastruktur. Seluruh aktivitas sebagaimana dijelaskan dalam contoh ini membentuk hubungan yang saling bergantung sama lain yang disebut sistem aktivitas.
  3. Lahan adalah komoditas. Penggunaan lahan harus memperhatikan kemampuan fisik alamiah dan daya dukungnya. Tidak semua lahan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bermukim dan ekonomi, seperti kawasan pegunungan dan sempadan sungai yang harus dijaga sebagai kawasan lindung. Ada seperangkat persyaratan yang harus dipenuhi agar lahan dapat dinyatakan kelayakannya sebagai wadah kegiatan yang secara mendasar dapat dipelajari dari Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 20/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang.
  4. Lahan sebagai sumber daya citra dan estetika kawasan. Selain aspek fungsional dan aspek ekonomi, lahan juga memiliki aspek estetika. Aspek ini penting dalam memberi kualitas lingkungan yang mendukung kegiatan rekreatif. Lahan yang memenuhi aspek ini akan memiliki nilai guna lahan yang cocok untuk kegiatan wisata, pendidikan dan hunian.

Penggunaan lahan perlu meninjau potensi alamiah yang dimiliki kawasan tersebut. Peraturan Menteri PU nomor 20 tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang menetapkan ada 4 komponen fisik utama yang harus diperhatikan, antara lain klimatologi, topografi, hidrologi dan geologi serta beberapa komponen tambahan antara lain sumber daya mineral/bahan galian, bencana alam dan penggunaan lahan. Secara teknis, komponen-komponen tersebut berupa data spasial berbentuk peta digital yang dianalisis mempergunakan teknik overlay dibantu perangkat analisis spasial seperti ArcGIS, ArcVIEW atau Map Info, atau Sofewere lainnya. Ada beberapa komponen analisis yang harus dipahami untuk dapat merencanakan penggunaan lahan, antara lain:

  1. Kemampuan lahan. Analisis ini pada prinsipnya untuk mengidentifikasi potensi tanah secara umum dengan cara mengklasifikasikan lahan berdasarkan faktor pembatas ke dalam beberapa kelas kemampuan. Sadyohutomo (2006: 28) menguraikan lahan dapat dibagi ke dalam 8 kelas kemampuan dimana kelas I adalah lahan dengan sedikit faktor pembatas yang artinya lahan tersebut dapat dipergunakan untuk aktivitas budidaya secara lebih beragam dan kelas VIII adalah lahan dengan faktor pembatas sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk kegiatan budidaya (sebaiknya dipergunakan untuk fungsi lindung) dengan demikian, pada prinsipnya analisis kemampuan lahan bertujuan untuk memetakan lahan yang potensi untuk fungsi lindung dan budidaya.
  2. Kesesuaian lahan. Analisis ini bertujuan untuk menilai tingkat kesesuaian lahan terhadap penggunaan tertentu dengan tingkat pengelolaan yang wajar. Lahan yang telah teridentifikasi sebagai lahan dengan faktor pembatas sedikit kemudian dianalisis untuk ditemukan kesesuaian penggunaannya berdasarkan kriteria tertentu. Kesesuaian penggunaan untuk padi sawah tentu berbeda dengan kesesuaian penggunaan untuk industri dan lain sebagainya. Kriteria-kriteria kesesuaian ini dapat dipelajari dari Peraturan Menteri PU nomor 20 tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik dan Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Peraturan Menteri PU nomor 41 tahun 2007 tentang Pedoman Kriteria Teknis Kawasan Budidaya.

Kedua analisis di atas memberi output berupa peta sebaran kemampuan dan kesesuaian lahan yang wajib dilakukan dalam proses awal perencanaan tata ruang.

Apabila analisis kemampuan dan kesesuaian fokus pada potensi fisik alamiah lahan, analisis penting berikutnya adalah analisis daya dukung lahan yang fokus pada aspek pemanfaatannya. Analisis ini memiliki asumsi dimana suatu populasi harus ditunjang oleh sejumlah sumber daya dan kondisi lingkungan tertentu (Sadyohutomo, 2006: 37). Dengan populasi sebagai titik berangkatnya, analisis ini cukup baik untuk memprediksi produktivitas kegiatan budidaya pada masa yang akan datang dan bagaimana produktivitas ini mampu mendukung populasi. Besaran daya dukung lahan ini sangat dipengaruhi oleh pola pengelolaan sumber daya dan berkurangnya sumber daya sebagai akibat ekspansi penduduk.

Peraturan Menteri PU nomor 41 tahun 2007 mengatur klasifikasi penggunaan lahan menjadi dua kelompok besar, dengan penjelasan sebagai berikut:

Kawasan lindung, adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. Kawasan lindung memiliki beberapa klasifikasi sebagaimana diuraikan dalam tabel di bawah ini.

Klasifikasi Kawasan LindungSub - Klasifikasi
Kawasan yang memberi perlindungan bagi kawasan di bawahnyaHutan lindung
Kawasan bergambut
Kawasan resapan air
Kawasan suaka alamKawasan cagar alam / cagar bahari
Kawasan suaka margasatwa / suaka perikanan
Kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya
Kawasan peletarian alamTaman nasional / taman laut nasional
Taman hutan raya
Taman wisata alam / wisata laut
Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan
Kawasan rawan bencanaKawasan rawan bencana gempa bumi
Kawasan rawan bencana gunung berapi
Kawasan rawan bencana gerakan tanah
Kawasan rawan banjir
Kawasan perlindungan setempatSempadan pantai
Sempadan sungai
Kawasan sekitar waduk dan situ
Kawasan sekitar mata air
Ruang terbuka hijau dan hutan kota
Kawasan perlindungan lainnyaTaman buru
Daerah perlindungan laut lokal
Kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ
Kawasan pengungsian satwa
Kawasan pantai berhutan bakau

Kawasan budidaya, adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. Klasifikasi kawasan budidaya dapat diuraikan dalam tabel berikut ini.

Klasifikasi Kawasan BudidayaSub - Klasifikasi
Kawasan hutan produksiKawasan hutan produksi terbatas
Kawasan hutan produksi tetap
Kawasan hutan produksi
konversi Kawasan hutan rakyat
Kawasan pertanianKawasan tanaman pangan lahan basah
Kawasan tanaman pangan lahan kering
Kawasan tanaman tahunan / perkebunan
Kawasan peternakan
Kawasan perikanan darat
Kawasan perikanan payau dan laut
Kawasan pertambanganKawasan pertambangan
Kawasan budidaya lainnyaKawasan perindustrian
Kawasan pariwisata
Kawasan permukiman
Kawasan perdagangan dan jasa
Kawasan pemerintahan

Karakteristik Citra Satelit

Sebelum lebih jauh membahas tentang pengolahan peta dan citra pengindraan jauh terlebih dahulu kita akan membahas jenis-jenis citra pengindraan jauh. Karena ada banyak ragam citra satelit yang masing-masing memiliki keistimewaan. Tiap citra satelit memiliki karakter yang berbeda-beda bergantung dari jenis sensor yang dibawanya, ketinggian orbitnya, juga resolusinya. Sehingga kecocokan penggunaan bergantung dari karakter tersebut.

Lansat

Citra Landsat TM merupakan salah satu jenis citra satelit pengindraan jauh yang dihasilkan dari sistem pengindraan jauh pasif. Landsat memiliki 7 saluran dimana tiap saluran menggunakan panjang gelombang tertentu. Satelit landsat merupakan satelit dengan jenis orbit sunsynkron (mengorbit bumi dengan hampir melewati kutub, memotong arah rotasi bumi dengan sudut inklinasi 98,2 derajat dan ketinggian orbitnya 705 Km dari permukaan bumi. Luas liputan per scene 185 Km x 185 Km. Landsat mempunyai kemampuan untuk meliput daerah yang sama pada permukaan bumi pada setiap 16 hari, pada ketinggian orbit 705 Km (Sitanggang, 1999 dalam Ratnasari, 2000). Fungsi dari satelit landsat adalah untuk pemetaan penutupan lahan, pemetaan penggunaan lahan, pemetaan tanah, pemetaan geologi, dan pemetaan suhu permukaan laut.

Satelit SPOT (systeme pour I’observation de la terre)

Merupakan satelit milik perancis yang mengusung pengindera HRV (SPOT1,2,3,4) dan HRG (SPOT5). Satelit ini mengorbit pada ketinggian 830 Km dengan sudut inklinasi 80 derajat. satelit SPOT memiliki keunggulan pada sistem sensornya yang membawa dua sensor identik yang disebut HRVIR (haute resolution visibel infrared). Masing-masing sensor dapat diatur sumbu pengamatannya ke kiri dan keakanan memotong arah lintasan satelit merekam sampai 7 bidang liputan. Fungsi dari satelit SPOT adalah untuk akurasi monitoring bumi secara global.

Satelit ASTER (advanced spaceborne emission and reflecton radiometer)

Satelit yang dikembangkan negara Jepang dimana sensor yang dibawa terdiri dari VNIR, SWIR, dan TIR. Satelit ini memiliki orbit sun synchronous yaitu orbit satelit yang menyelaraskan pergerakan satelit dalam orbit presisi bidang orbit dan pergerakan bumi mengelilingi matahari, sedemikian rupa sehingga satelit tersebut akan melewati lokasi tertentu di permukaan bumi selalu pada waktu lokal yang sama setiap harinya. Ketinggian orbitnya 707 Km dengan sudut inklinasi 98,2 derajat.

Satelit QUICKBIRD

Merupakan satelit resolusi tinggi dengan resolusi spasial 61 cm, mengorbit pada ketinggian 450 Km secara sinkron matahari, satelit ini memiliki dua sensor utama yaitu pankromatik dan multi spektral. Quickbird diluncurkan pada bulan Oktober 2001 di California, AS. Quickbird memiliki empat saluran (band). Fungsi dari satelit QUICKBIRD adalah untuk mendukung aplikasi kekotaan, pengenalan pola permukiman, perluasan daerah terbangun, menyajikan variasi fenomena yang terkait dengan kota, dan untuk lahan pertanian, terkait dengan umur, kesehatan, dan kerapatan tanaman semusim, sehingga sering kali dipakai untuk menaksir tingkat produksi secara regional.

Satelit IKONOS

Ikonos adalah satelit resolusi spasial tinggi yang diluncurkan bulan September 1999. merekam data multi spektral 4 kanal pada resolusi 4 m. Ketinggian orbitnya 681 Km. Citra resolusi tinggi sangat cocok untuk analisis detail, misalnya wilayah perkotaan tapi tidak efektif apabila digunakan untuk analisis yang bersifat regional. Fungsi dari satelit IKONOS adalah untuk pemetaan topografi dari skala kecil hingga menengah, menghasilkan peta baru, memperbaharui peta topografi yang sudah ada, dan mengoptimalkan penggunaan pupuk dan herbisida.

Satelit ALOS

Jepang menjadi salah satu negara yang paling inovatif dalam pengembangan teknologi satelit pengindraan jarak jauh setelah diluncurkannya satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) pada tanggal 24 Januari 2006. ALOS adalah satelit pemantau lingkungan yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan kartografi, observasi wilayah, pemantauan bencana alam dan survei sumber daya alam.

Satelit GeoEye

GeoEye-1 merupakan Satelit pengamat Bumi yang pembuatannya disponsori oleh Google dan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) yang diluncurkan pada 6 September 2008 dari Vandenberg Air Force Base, California, AS. Satelit ini mampu memetakan gambar dengan resolusi gambar yang sangat tinggi dan merupakan satelit komersial dengan pencitraan gambar tertinggi yang ada di orbit bumi saat ini.

Satelit WorldView

Satelit World View-2 adalah satelit generasi terbaru dari Digital globe yang diluncurkan pada tanggal 8 Oktober 2009. Citra Satelit yang dihasilkan selain memiliki resolusi spasial yang tinggi juga memiliki resolusi spektral yang lebih lengkap dibandingkan produk citra sebelumnya. Resolusi spasial yang dimiliki citra satelit WorldView-2 ini lebih tinggi, yaitu : 0.46 m – 0.5 m untuk citra pankromatik dan 1.84 m untuk citra multi spektral. Citra multi spektral dari World View-2 ini memiliki jumlah band sebanyak 8 band, sehingga sangat memadai bagi keperluan analisis-analisis spasial sumber daya alam dan lingkungan hidup.

Satelit NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration)

Satelit NOAA merupakan satelit meterologi generasi ketiga milik ”National Oceanicand Atmospheric Administration” (NOAA) Amerika Serikat. Munculnya satelit ini untuk menggantikan generasi satelit sebelumnya, seperti seri TIROS (Television and Infra Red Observation Sattelite, tahun 1960-1965) dan seri IOS (Infra Red Observation Sattelite, tahun 1970-1976). Konfigurasi satelit NOAA adalah pada ketinggian orbit 833-870 Km, inklinasi sekitar 98,7 ° – 98,9 °, mempunyai kemampuan mengindra suatu daerah 2 x dalam 24 jam (sehari semalam).

Seri NOAA ini dilengkapi dengan 6 (enam) sensor utama, yaitu :

  1. AVHRR (Advanced Very High Resolution Radiometer);
  2. TOVS (Tiros Operational Vertical Sonde);
  3. HIRS (High Resolution Infrared Sounder (bagian dari TOVS);
  4. DCS (Data Collection System)
  5. SEM (Space Environtment Monitor);
  6. SARSAT (Search And Rescue Satelite System).

Satelit NOAA digunakan untuk membuat peta suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature Maps/SST Maps), memonitor iklim, studi El Nino, dan deteksi arus laut untuk memandu kapal-kapal pada dasar laut dengan ikan berlimpah.

Terra

Terra adalah sebuah citra satelit yang merupakan sebuah spectrometer citra beresolusi tinggi yang dapat mengamati tempat yang sama di permukaan bumi setiap hari. Fungsi dari citra satelit ini adalah untuk pengamatan vegetasi, radiasi permukaan bumi, pendeteksian tutupan lahan, pendeteksian kebakaran hutan, dan pengukuran suhu permukaan bumi.

The Indian Remote Sensing (IRS)

IRS adalah sistem satelit untuk menyediakan informasi manajemen sumber daya alam yang berharga. Fungsi dari citra satelit ini adalah untuk perencanaan perkotaan dan manajemen bencana.

Meteosat

Meteosat adalah sebuah satelit geostasioner yang digunakan dalam program meteorologi dunia. Mengamati fenomena yang relevan bagi ahli meteorologi.

Setelah mengenali beberapa karakteristik dari beragan citra satelit, dapat ditentukan citra satelit yang sesuai untuk analisis jaringan transportasi dan tata guna lahan.

Sumber yang jaga memuat contoh gambar bisa dilihat di sini

Interpretasi peta dan pengolahan citra pengindraan jauh terkait jaringan transportasi

Telah dibahas di atas bahwa kajian transportasi erat kaitannya dengan tata guna lahan. Sehingga kajiannya cenderung akan tumpang tindih, atau boleh didefinisikan saling melengkapi. Adanya jaringan transportasi akan mengubah bobot aksesibilitas suatu tempat, aksesibilitas berpengaruh terhadap nilai dan penggunaan lahan.

Bahasan berikutnya adalah kajian tentang bagaimana citra dan peta dioleh untuk melihat nilai aksesibilitas suatu sarana transportasi. Ini diambil dari Abstrak sebuah penelitian yang berjudul Pemanfaatan Citra Ikonos Geo untuk kajian aksesibilitas fisik zona pemukiman (Studi kasus di KP PBB Tangerang Satu) oleh: Sugeng Riyadi, Universitas Gajah Mada. Hanya abstraknya saja. Dilengkapi beberapa catatan sebagai keterangan.

Perubahan tata guna lahan dapat menyebabkan perubahan nilai tanah dan perubahan klasifikasi pemukiman sehingga selalu di monitor oleh KP PBB dalam rangka mengamankan rencana penerimaan. Banyaknya kegiatan survei lapangan untuk menentukan klasifikasi nilai tanah di suatu wilayah merupakan salah satu kendala dalam peningkatan rencana penerimaan dan pencapaian target penerimaan PBB, karena memerlukan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Salah satu cara adalah penggunaan citra satelit dari berbagai waktu untuk monitoring perubahan penggunaan lahan , klasifikasi pemukiman dan analisis perubahan NJOP. Pemanfaatan citra IKONOS Geo, dalam penelitian ini, dijadikan alternatif kegiatan pengumpulan data yang dibutuhkan dalam menentukan klasifikasi pemukiman atas dasar aksesibilitasnya.

Penelitian secara garis besar dibagi ke dalam tiga tahap yaitu (1) tahap pengumpulan data terdiri dari pengamatan kesesuaian citra IKONOS Geo dengan ketampakan sebenarnya di lapangan dan uji peta hasil interpretasi.

Catatan: Satelit IKONOS merupakan satelit yang memiliki resolusi spasial yang tinggi yang memproduksi citra 1 m hitam dan putih atau pankromatik dan citra 4 m red, green, blue ,dan Near Infrared atau multi spektral. Kedua dari resolusi tersebut mampu di kombinasikan dengan banyak cara untuk mengakomodasikan secara luas aplikasi citra yang memiliki resolusi yang tinggi. Satelit IKONOS dilengkapi dengan Optical Sensor Assembly (OSA), OSA yang terdapat pada satelit beresolusi tinggi ini di dasarkan pada prinsip pushbroom yang mampu mengambil citra pankromatik dan citra multi spektral secara simultan. Berdasarkan penelitian, IKONOS mampu mengirimkan resolusi spasial yang paling tinggi sejauh yang mampu di capai oleh sebuah satelit sipil.

Biasanya citra satelit IKONOS diaplikasikan untuk pemetaan perkotaan dan pedesaan, pemetaan perpajakan, konstruksi, pertambangan, sumber daya alam dan bencana alam, analisis pertanian dan perhutanan serta deteksi perubahan lingkungan. Hal ini diterapkan karena cakupan dan kedetailan dari citra satelit resolusi tinggi IKONOS ini hampir semua aspek studi lingkungan mampu menghasilkan hasil yang cukup relevan. Tidak sedikit pula perusahaan yang membeli IKONOS untuk memanfaatkan citra satelit IKONOS yang beresolusi tinggi untuk kegunaan media industri dimana citra resolusi tinggi ini mampu memberikan pandangan udara serta citra satelit untuk sekian banyak daerah di seluruh areal yang dicakup oleh citra IKONOS ini.

Sumber baca di sini

(2) Tahap pengolahan data terdiri dari pengolahan citra, interpretasi citra IKONOS Geo, delineasi batas administrasi kelurahan, pembuatan peta parameter aksesibilitas.

Catatan: delineasi batas administrasi kelurahan biasanya pada tahap ini dilakukan proses cropping atau pemotongan citra berdasarkan wilayah studi area. Proses ini bertujuan untuk memudahkan dalam proses analisis dengan memfokuskan wilayah yang diteliti dengan menghilangkan beberapa area yang tidak digunakan dalam penelitian. Proses ini dilakukan dengan menggabungkan antara data raster (data citra satelit) dengan data vektor yang merupakan data administratif batas wilayah yang akan diteliti.

Catatan: Menurut Black (1981 dalam Tamin 2000) aksesibilitas adalah suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan mudah atau sulitnya lokasi tersebut dicapai melalui transportasi. Salah satu variabel yang dapat dinyatakan apakah tingkah aksesibilitas itu tinggi atau rendah dapat dilihat dari banyaknya sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut. Semakin banyak sistem jaringan yang tersedia pada daerah tersebut maka semakin mudah aksesibilitas, sebaliknya semakin rendah tingkat aksesibilitas yang didapat maka semakin sulit daerah itu dijangkau dari daerah lainnya (Bintarto,1989).

(3) Tahap analisis data terdiri dari analisis spasial dan analisis statistik. (3a) Analisa spasial digunakan untuk membuat peta-peta yang merupakan penentu klasifikasi pemukiman berdasarkan aksesibilitasnya dengan menggunakan fasilitas buffer dan overlay. Pada tahap ini juga dilakukan pengharkatan dan pembobotan semua parameter dan total nilai masing-masing pemukiman dijadikan tiga kelas dengan hasil berupa peta klasifikasi pemukiman.

Catatan: Analisis spasial ialah suatu teknik atau proses yang melibatkan sejumlah fungsi hitungan dan evaluasi logika matematis yang dilakukan terhadap data spasial dalam rangka untuk mendapatkan ekstraksi, nilai tambah, atau informasi baru yang juga beraspek spasial.  Oleh karena luas lingkupnya, banyak bahasan yang dapat dicakup olehnya. Demikian pula halnya dengan ArcGIS yang kaya akan fungsi-fungsi spasial. ArcGIS yang berbasis Desktop memuat tool spatial analyst yang mana  merupakan sebuah extention yang menyediakan tools yang powerful dan lengkap bagi pemodelan dan analisis spasial yang kebanyakan berbasiskan raster.

Analisis dalam SIG memiliki beberapa metode pendekatan. Ada dua metode pendekatan yang secara umum digunakan, yaitu pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitaf. Pendekatan kuantitatif memiliki tiga macam cara, yaitu secara binary, berjenjang, dan berjenjang tertimbang. Penjelasan singkat mengenai metode pendekatan tersebut sebagai berikut:

  1. Metode Kualitatif, Metode pendekatan kualitatif dapat diterapkan sebagai salah satu metode analisis dalam Sistem Informasi geografis. Data yang dipergunakan merupakan data spasial yang memiliki klasifikasi data yang sifatnya kualitatif. Contoh peta yang memiliki tingkatan data kualitatif adalah peta penggunaan `lahan.
  2. Metode Kuantitatif Binary, Pendekatan kuantitatif binary menggunakan operasi logika AND di dalam algoritmanya, dengan demikian dalam pengharkatan terhadap parameter kelas yang digunakan hanya ada dua kelas, yaitu nilai 1 (diterima) atau nilai 0 (tidak diterima), dengan demikian pada setiap parameter yang digunakan dalam analisis harus dinilai terlebih dahulu diterima atau tidak diterimanya suatu kelas parameter untuk maksud tujuan analisisnya.
  3. Metode Kuantitatif Berjenjang, Pendekatan kuantitatif berjenjang ini memberikan nilai yang sama untuk setiap komponen yang digunakan dalam analisisnya. Setiap komponen diberikan harkat yang sama untuk analisisnya, dengan asumsi bahwa setiap komponen mempunyai pengaruh yang sama pada objek yang dianalisis. Pendekatan tersebut memiliki faktor-faktor pembatas pada setiap parameter yang menyusunnya. Pembatasnya tidak bersifat mutlak tetapi berjenjang memiliki tingkatan-tingkatan kelas dan nilai masing-masing.
  4. Metode Kuantitatif Berjenjang Tertimbang, Pendekatan kuantitatif berjenjang tertimbang ini tetap memberikan nilai pengharkatan tetapi digunakan bobot yang berbeda pada setiap variabel yang digunakan dalam analisisnya. Bobot variabel tersebut bergantung pada besar kecilnya pengaruh variabel tersebut pada tema analisis yang menjadi tujuan akhir. Dengan demikian pada metode ini memberikan asumsi bahwa setiap variabel memiliki pengaruh yang berbeda pada tujuan objek yang dianalisis.

Sepertinya penelitian ini menggunakan metode ke-4

Sumber: baca di sini

(3b) Analisis statistik digunakan untuk mengukur sejauh mana pengaruh seluruh parameter aksesibilitas terhadap NIR yang telah ditetapkan oleh KP PBB dengan menggunakan analisis regresi linier. Koreksi geometrik dilakukan sebelum pemotongan citra dengan nilai total RMS error adalah 0.2 dan nilai rata-rata RMS error untuk setiap titik sebesar 0.025, memenuhi toleransi yang disarankan pada koreksi geometrik yakni ½ kali ukuran piksel ( ½ X 1 meter).

Catatan: parameter aksesibilitas,

Catatan: NIR = NJOP (Nilai Jual Objek Pajak)

Catatan: Analisis regresi linier sederhana adalah hubungan secara linear antara satu variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan. Data yang digunakan biasanya berskala interval atau rasio.

Pelaksanaan uji peta atas hasil interpretasi dengan hasil survei lapangan memperoleh ketelitian secara keseluruhan adalah 88%. Analisis daya tarik antara dua kawasan dilakukan melalui Elwood’s Modification Model, diperoleh fakta bahwa kawasan stasiun Plawad mempunyai daya tarik lebih kuat, yaitu 37,7 % lebih kuat dibandingkan stasiun Tangerang Kota.

Catatan: Elwood’s Modification Model, Model ini merupakan modifikasi model dari Reilly’s model. Asumsi-asumi: (1) Faktor utama yang menentukan atau mempengaruhi preferensi konsumen terhadap pemilihan kota untuk berbelanja adalah luas pusat perbelanjaan (retail space) dan waktu tempuh kendaraan. (2) Model ini menyatakan bahwa semakin besar dan luas ruang pusat perbelanjaan dan semakin singkatnya waktu tempuh kendaraan, maka daya tarik suatu pusat perbelanjaan akan semakin besar. (3) Model ini hanya digunakan untuk menganalisis dua pusat perbelanjaan saja.

Sumber baca di sini

Berdasarkan hasil analisis spasial didapat 3 klas pemukiman berdasarkan aksesibilitasnya dengan nilai tertinggi 68 sedangkan nilai terendahnya 27 . Uji koefisien determinasi (R²) menunjukkan variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikatnya sebesar 97,9 % sedangkan sisanya sebesar 2,1 % dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

Interpretasi peta dan pengolahan citra pengindraan jauh terkait tata guna lahan

Agar kerangka berpikir lebih runut dan lebih jelas pembahasan pada sub judul ini akan menggunakan kerangka praksis, hasil olah citra pengindraan jauh yaitu citra landsat dari penelitian yang telah dilakukan oleh Gregorius Anung Hanindito, Eko Sediyono, dan Adi Setiawan, dari Universitas Guna Darma dengan sedikit penambahan. Pada penelitian yang berjudul “ANALISIS PANTAUAN DAN KLASIFIKASI CITRA DIGITAL PENGINDRAAN JAUH DENGAN DATA SATELIT LANDASAT TM MELALUI TEKNIK SUPERVISED CLASSIFICATION (STUDI KASUS KABUPATEN MINAHASA TENGGARA, PROVINSI SULAWESI UTARA)”. Penelitian ini akan membimbing untuk memahami bagaimana pengolahan peta dan cita pengindraan jauh untuk melihat penggunaan lahan (land use).

Jenis data

Jenis data yang digunakan adalah berupa data sekunder berupa peta administrasi berformat shapefile (SHP) untuk proses cropping (pemotongan) citra. Shapefile adalah format data vektor geospasial yang populer untuk perangkat lunak sistem informasi geografis (SIG). Data jumlah penduduk dan data hasil pertanian dari Biro Pusat Statistik, sebagai data acuan keadaan wilayah suatu tempat.

Dan data cita yang digunakan adalah citra Landsat TM. data ini dianalisis menggunakan teknik Supervised Classification, bertujuan untuk mengetahui pembagian klasifikasi kelas-kelas unsur atau tipe penutup lahan seperti; perkotaan, tubuh air, lahan basah, dll. sehingga melalui metode ini akan didapat bagaimana keadaan tipe-tipe penutup lahan yang terdapat pada wilayah yang bersangkutan.

Lebih jelas tentang Ladsat TM: bisa dibaca di sini

Metode

Ada dua metode pengklasifikasian tutupan lahan pada citra dengan perangkat lunak SIG, Supervised Classification, dan Unsupervised Classification. Pada klasifikasi tidak terbimbing, proses pembentukan kelas–kelas sebagian besar dikerjakan oleh program komputer yang terbentuk berdasarkan data itu sendiri. Klasifikasi tidak terbimbing ini hanya sebagian kecil saja yang ditetapkan atau didesain oleh analis. Klasifikasi ini sering disebut juga dengan clustering. Sedangkan klasifikasi terbimbing adalah klasifikasi yang dilakukan dengan arahan analis (supervised). Kriteria pengelompokan kelas ditetapkan berdasarkan penanda kelas yang diperoleh analis melalui pembuatan “training area”.

Proses

Konversi Citra. Citra satelit Landsat TM yang diunduh merupakan citra satelit yang terdiri atas beberapa band hasil rekaman sensor satelit. citra tersebut masih berformat TIFF (Tagged Image File Format, disingkat TIFF atau TIF, adalah format file komputer untuk menyimpan gambar grafik raster) dan belum dapat dianalisis sehingga perlu dilakukan konversi citra yang bertujuan untuk mempermudah dalam proses penganalisisan, konversi dilakukan dengan menggabungkan antara beberapa band citra dalam sebuah ketampakan yang berformat ERS (File GIS dibuat oleh ER Mapper, aplikasi pengolah gambar yang digunakan untuk menganalisis gambar geospasial; berisi teks ASCII sederhana yang menggambarkan data raster dalam file terpisah yang memiliki awalan nama file yang sama tetapi tidak ada ekstensi yang digunakan untuk menyimpan dataset mentah dan yang diproses).

Berikut ini merupakan tingkatan band yang terdapat pada sistem pengindraan jauh:

  1. Band 1 (biru), band ini sering digunakan untuk mengamati unsur-unsur aquatic ecosystem;
  2. Band 2 (hijau), kualitas dari band ini tidak jauh berbeda dengan band 1, dan band ini sering dipergunakan untuk mengamati kehijauan vegetasi;
  3. Band 3 (merah), Karena vegetasi menyerap semua cahaya merah, maka band ini dipergunakan untuk membedakan vegetasi dan tanah, dan juga dipergunakan untuk memonitor kesehatan vegetasi;
  4. Band 4 (near infrared), pada dasarnya air akan menyerap hampir semua radiasi elektromagnetik, maka unsur air akan tampak sangat gelap;
  5. Band 5 (SWIR), Band ini bersifat sensitif terhadap kelembaban, sehingga band ini dapat digunakan untuk memonitor kelembaban tanah dan vegetasi;
  6. Band 6 (LWIR, Thermal Infrared), band ini merupakan band thermal, yang berarti band ini digunakan untuk mengukur suhu permukaan. Selain itu band ini juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan aplikasi geologi, tekanan suhu tumbuhan, serta membedakan unsur awan dan tanah yang ketampakannya cukup terang;
  7. Band 7 (SWIR), Berguna untuk pengenalan terhadap mineral dan jenis batuan, juga sensitif terhadap kelembaban tumbuhan.

Cropping Citra. Pada tahap ini dilakukan proses cropping atau pemotongan citra berdasarkan wilayah studi area. Proses ini bertujuan untuk memudahkan dalam proses analisis dengan memfokuskan wilayah yang diteliti dengan menghilangkan beberapa area yang tidak digunakan dalam penelitian. Proses ini dilakukan dengan menggabungkan antara data raster (data citra satelit) dengan data vektor yang merupakan data administratif batas wilayah yang akan diteliti.

Peningkatan Kontras Citra. Proses ini dilakukan agar mendapatkan citra yang baik dengan kualitas warna yang sesuai dengan ketampakan asli di permukaan bumi serta mendukung dalam proses selanjutnya yakni klasifikasi citra. Proses ini lebih bertujuan untuk memberikan pewarnaan yang lebih tajam sehingga proses klasifikasi lebih mudah untuk dilakukan.

Klasifikasi Citra. Proses ini merupakan peninjauan ketampakan citra berdasarkan fenomena yang tampak. Citra yang dihasilkan dan dianalisis menggunakan terminologi true color composite atau ketampakan citra sesuai dengan ketampakan aslinya di permukaan bumi. Sehingga proses klasifikasi ini dilakukan dengan membedakan tiap-tiap warna yang terdapat pada citra.

Hasil yang di dapatkan adalah berupa peta tutupan lahan, atau penggunaan lahan, berdasarkan klasifikasi yang telah dibuat pada proses klasifikasi citra dengan model Supervised Classification dalam bentuk data SHP.

Analisis keruangan pada Sistem Informasi Geografis (SIG) terkait potensi wilayah dan kesehatan lingkungan

Potensi wilayah

Potensi wilayah adalah sesuatu yang dimiliki baik berupa sumber manusia (SDM) atau sumber daya alam (SDM) suatu wilayah baik yang telah di mobilisasi maupun yang belum yang dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat suatu wilayah dan wilayah lainnya. Menurut prinsip persebaran dalam ilmu geografi bahwa fenomena alam, baik fisik atau sosial tersebar tidak merata. Perpaduan antara objek-objek yang ada di permukaan bumi menghasilkan keunikan dari setiap wilayah. Demikian juga potensi suatu wilayah.

Satu lagi sumber daya yang vital bagi sebuah wilayah sebagai potensi adalah Sumber Daya Budaya (SDB). Peran atau fungsi sumber daya budaya (cultural resources) dalam menentukan arah pembangunan sangat penting. Salah satu sumber daya budaya adalah kearifan sosial (local wisdom). Keramahtamahan, nilai gotong-royong dll.

Setiap wilayah di permukaan bumi dengan segala kekurangan dan kelebihannya tentu memiliki potensinya yang unik. Potensi ini harus dianalisis untuk dapat lebih dikenali, kemudian dikembangkan untuk kesejahteraan warganya. Potensi yang besar jika tidak dikembangkan tentu sangat mubazir, namun proses pengembangan tanpa mengenali potensi memiliki kecenderungan gagal yang tinggi.

Jenis potensi wilayah:

Sumber Daya Alam

  1. Ruang angkasa: pengorbitan satelit untuk riset dan pengindraan wilayah.
  2. Hutan: hutan lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi.
  3. Laut: potensi ikan, dan keragaman biota laut.
  4. Tambang: minyak bumi, batu bara, emas, besi, belerang, dan batu gamping.
  5. Tanah: vulkanik, humus, dan gambut.
  6. Air: minum, MCK, pertanian, dan industri.
  7. Pertanian: makanan pokok, perkebunan, peternakan, dan perikanan

Sumber Daya Manusia:

  1. Kuantitas: Jumlah Penduduk
  2. Kualitas: Kemampuan, keahlian, dan keterampilan yang dimiliki oleh penduduk suatu negara merupakan modal utama dalam mengelola SDA.

Sumber Daya Budaya:

  1. Norma
  2. Adat istiadat
  3. Produk kebudayaan

Kesehatan Lingkungan

Kesehatan lingkungan adalah suatu ilmu dan seni dalam mencapai keseimbangan antara lingkungan dan manusia, ilmu dan juga seni dalam pengelolaan lingkungan sehingga dapat tercapai kondisi yang bersih, sehat, nyaman dan aman serta terhindar dari gangguan berbagai macam penyakit.

Ilmu Kesehatan Lingkungan mempelajari dinamika hubungan interaktif antara kelompok penduduk dengan berbagai macam perubahan komponen lingkungan hidup yang menimbulkan ancaman atau berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat umum.

Sedangkan menurut, WHO (World Health Organization) – Kesehatan lingkungan adalah suatu keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.

Ruang lingkup kesehatan lingkungan

Ruang lingkup kesehatan lingkungan menurut WHO, diantaranya ada 17, diantaranya:

  1. Penyediaan Air Minum;
  2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran;
  3. Pembuangan Sampah Padat;
  4. Pengendalian Vektor;
  5. Pencegahan dan pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia;
  6. Higiene makanan, termasuk higiene susu;
  7. Pengendalian pencemaran udara;
  8. Pengendalian radiasi;
  9. Kesehatan kerja;
  10. Pengendalian kebisingan;
  11. Perumahan dan pemukiman;
  12. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara;
  13. Perencanaan daerah dan perkotaan;
  14. Pencegahan kecelakaan;
  15. Rekreasi umum dan pariwisata;
  16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah, bencana alam dan perpindahan penduduk;
  17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.

Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan lingkungan diterangkan dalam Pasal 22 ayat (3) UU No. 23 tahun 1992 ruang lingkup kesehatan lingkungan ada 8, yaitu:

  1. Penyehatan Air dan Udara;
  2. Pengamanan Limbah padat atau sampah;
  3. Pengamanan Limbah cair;
  4. Pengamanan limbah gas;
  5. Pengamanan radiasi;
  6. Pengamanan kebisingan;
  7. Pengamanan vektor penyakit;
  8. Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana.

Analisis Keruangan pada Sistem Informasi Geografis (SIG)

Eksistensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari:

  1. Struktur (spatial structure), Struktur keruangan berkenaan dengan elemen-elemen pembentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbolkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) ketampakan titik (point features), (2) ketampakan garis (line features), dan (3) ketampakan bidang (areal features).
  2. Pola (spatial pattern), Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk ketampakan-ketampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989). Agihan ketampakan areal (bidang) dapat berupa ketampakan yang memanjang (linier/axial/ribbon); ketampakan seperti kipas (fan-shape pattern), ketampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), ketampakan gurita (octopus shape pattern), ketampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi tersebut selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
  3. Proses (spatial process) Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dimensi waktu (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.

Analisis keruangan atau analisis spasial adalah sekumpulan teknik yang dapat digunakan dalam pengolahan data SIG. Analisis spasial juga dapat diartikan sebagai teknik-teknik yang digunakan untuk meneliti dan mengeksplorasi data dari perspektif keruangan. Semua teknik atau pendekatan perhitungan matematis yang terkait dengan data keruangan (spasial) dilakukan dengan fungsi analisis spasial tersebut.

Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa Analisis spasial atau statistik spasial mencakup salah satu teknik formal yang mempelajari entitas menggunakan sifat topologi, geometrik, atau geografis. Analisis spasial mencakup berbagai teknik, (banyak yang masih dalam pengembangan), menggunakan pendekatan analitik yang berbeda. Dalam pengertian yang lebih terbatas, analisis spasial adalah teknik yang diterapkan pada struktur data, terutama dalam analisis data geografis.

Sistem Informasi geografis (SIG) dan ilmu informasi geografislah yang memiliki pengaruh yang kuat pada analisis spasial. SIG adalah sekumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer (Computer Hardware), perangkat lunak (Software), data geografi (geographic data), personil (personnel) yang dirancang untuk secara efisien merekam (capture), menyimpan (store), memperbaharui (update), memanipulasi (manipulate), menganalisis (analyze), dan menampilkan atau menyajikan semua bentuk informasi yang bereferensi geografis (ESRI 1995).

Meningkatnya kemampuan untuk menangkap dan menangani data geografis berarti bahwa analisis spasial terbangun dalam lingkungan yang semakin kaya data. Sistem pengambilan data geografis mencakup citra pengindraan jauh, sistem pemantauan lingkungan seperti sistem transportasi cerdas, dan teknologi sadar lokasi seperti perangkat seluler yang dapat melaporkan lokasi secara up to date. SIG menyediakan platform untuk mengelola data ini, komputasi hubungan spasial seperti jarak, konektivitas dan hubungan terarah antara unit spasial, dan memvisualisasikan data mentah dan hasil analitik spasial dalam konteks kartografi.

Beberapa konten SIG, seperti:

  1. Lokasi spasial (Spatial location): Transfer informasi posisi objek ruang angkasa dengan bantuan sistem koordinat ruang. Teori transformasi proyeksi adalah fondasi representasi objek spasial.
  2. Distribusi spasial (Spatial distribution): objek spasial yang serupa mengelompokkan informasi posisi, termasuk distribusi, tren, kontras, dll.
  3. Bentuk spasial (Spatial form): bentuk geometris dari objek spasial
  4. Ruang spasial (Spatial space): derajat mendekati objek ruang angkasa
  5. Hubungan spasial (Spatial relationship): hubungan antara objek spasial, termasuk topologi, orientasi, kesamaan, dll.

Manfaat Analisis Spasial Dalam pengolahan data SIG, analisis spasial dapat digunakan untuk memberikan solusi-solusi atas permasalahan keruangan. Manfaat dari analisis spasial ini tergantung dari fungsi yang dilakukan. Antara lain:

  1. Membuat, memilih, memetakan, dan menganalisis data raster berbasis sel;
  2. Melaksanakan analisis data vektor/raster yang terintegrasi;
  3. Mendapatkan informasi baru dari data yang sudah ada;
  4. Memilih informasi dari beberapa layer data;
  5. Mengintegrasikan sumber data raster dengan data vektor.

Jenis-jenis Tools Analisis Spasial:

  1. Query basis data, Query basis data digunakan untuk memanggil atau mendapatkan kembali atribut data tanpa mengganggu atau mengubah data yang sudah ada. Fungsi dari query basis data ini dapat dilakukan dengan mudah dengan mengeklik feature yang diinginkan. Namun untuk query yang lebih kompleks dapat dilakukan dengan pernyataan kondisional (conditional statement). Pernyataan kondisional tersebut melibatkan operasi logis, yaitu AND, OR, NOT, XOR.
  2. Pengukuran Analisis spasial dapat dilakukan dengan fungsi pengukuran. Fungsi pengukuran yang dimaksud adalah sebagai berikut: (1) Jarak, pengukuran jarak yang dimaksud adalah menghitung jarak antar dua titik. Pengukuran jarak ini dapat dilakukan dengan mengeklik kedua titik tersebut, atau dapat juga dengan menggunakan query; (2) Luas, fungsi luas ini dapat digunakan untuk menghitung luas suatu wilayah unsur-unsur spasial. Wilayah tersebut dapat berupa poligon (vektor) ataupun juga wilayah yang bertipe raster; (3). Keliling. Fungsi keliling ini digunakan untuk menghitung keliling (parameter) unsur-unsur spasial. Unsur-unsur spasial tersebut dapat bertipe poligon (vektor) dan juga raster; (4) Centroid, fungsi digunakan untuk menentukan koordinat titik pusat dari unsur-unsur spasial yang bertipe poligon (raster).
  3. Fungsi Kedekatan, Fungsi kedekatan adalah sebuah fungsi untuk menghitung jarak dari suatu titik, garis, ataupun batas poligon. Salah satu fungsi kedekatan yang paling banyak digunakan adalah dengan buffer. Buffer adalah analisis spasial yang akan menghasilkan unsur-unsur spasial yang bertipe poligon.
  4. Overlay, Overlay adalah bagian penting dari analisis spasial. Overlay dapat menggabungkan beberapa unsur spasial menjadi unsur spasial yang baru. Dengan kata lain, overlay dapat didefinisikan sebagai operasi spasial yang menggabungkan layer geografik yang berbeda untuk mendapatkan informasi baru. Overlay dapat dilakukan pada data vektor maupun raster.
  5. Pengubahan Unsur-unsur Spasial: Union, Merge, atau Combine Pada pengolahan data SIG, sering kali harus melakukan penggabungan antar unsur-unsur spasial. Penggabungan tersebut dapat menggunakan analisis spasial, yaitu union, merge, atau combine. Penggabungan ini dapat menjadikan beberapa unsur spasial menjadi satu unsur spasial saja tanpa mengubah beberapa unsur spasial yang digabungkan tersebut. Delete, Erase, atau Cut Fungsi analisis spasial ini digunakan untuk menghapus unsur-unsur spasial yang dirasa tidak perlu ditampilkan. Fungsi ini hanya akan menghapus unsur-unsur spasial yang terpilih saja. Split atau Clip Fungsi analisis spasial ini bertujuan untuk menghasilkan unsur spasial baru dengan cara memotongnya dari unsur spasial lainnya. Intersect adalah sebuah fungsi pada analisis spasial untuk menghasilkan unsur spasial baru dari dua atau lebih unsur spasial. Fungsi ini menghasilkan unsur spasial baru dari irisan dua atau lebih unsur spasial sebelumnya.

Analisis Keruangan Pada Sistem Informasi Geografis (SIG) Terkait Potensi Wilayah

Bahasan berikut menggunakan jurnal ilmiah dari Yulian Fauzi, Boko Susilo, dan Zulfia Memi Mayasari, berjudul ANALISIS KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KOTA BENGKULU MELALUI PERANCANGAN MODEL SPASIAL DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG).

Proses Kerja SIG

INPUT

Secara garis besar ada dua jenis data dalam pembangunan SIG yaitu data spasial (keruangan) dan data non spasial (data atribut). Kedua data ini harus saling terintegrasi agar bisa menampilkan informasi yang dibutuhkan. Kedua jenis data ini harus disimpan dalam satu hierarchy database.

Pengumpulan data yang dilakukan meliputi data spasial yang dikumpulkan dari instansi-instansi terkait (Bakosurtanal, Departemen Kehutanan dan Bappeda) meliputi:

  1. peta lereng;
  2. peta jenis tanah;
  3. peta penggunaan lahan;
  4. peta administrasi;
  5. peta hutan lindung;
  6. peta ekosistem pesisir;
  7. peta pariwisata;
  8. peta utilitas; dan
  9. peta aksesibilitas (transportasi).

Data atribut meliputi data:

  1. sosial ekonomi;
  2. penggunaan lahan saat ini.

Data yang telah dikumpulkan baik data primer maupun data sekunder sebelum, masuk ke dalam tahap analisis akan diolah terlebih dahulu.

Secara garis besar ada dua jenis data dalam pembangunan SIG yaitu data spasial (keruangan) dan data non spasial (data atribut). Kedua data ini harus saling terintegrasi agar bisa menampilkan informasi yang dibutuhkan. Kedua jenis data ini harus disimpan dalam satu hierarchy database.

Hal terpenting dalam pengolahan data spasial adalah pada saat registrasi peta dan digitasi, karena berhubungan dengan keakuratan posisi objek pada peta. Hal pertama yang dilakukan adalah registrasi dokumen peta dasar terlebih dahulu, jika registrasi selesai, selanjutnya adalah melakukan digitasi sesuai dengan peta dasar yang sudah diregistrasi. Digitasi dilakukan dengan beberapa layer sesuai dengan keperluan dan kelengkapan peta dan masing-masing layer tersebut kemudian disimpan dalam basis data.

Jika digitasi selesai dilakukan, maka selanjutnya adalah dengan melakukan input data-data atribut dari setiap objek pada masing-masing layer, dan data atribut tersebut disimpan juga dalam basis data SIG bersama dengan data spasial.

PROSES

Kriteria Analisis

Kriteria yang digunakan dalam analisis alokasi ruang ini adalah kriteria umum dan parameternya masih bersifat sementara. Analisis spasial menggunakan formula matematis sebagai berikut:

P(x)=f(abiotik)+f(biotik)+f(sosial\;ekonmi)+f(RTRW)

Keterangan:

P(x)=\; daerah\;potensial\;untuk\;pengembangan\;usaha\;(x)

Analisis Kesesuaian Lahan

Analisis lahan dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian lahan untuk pengunaan lahan tertentu. Dalam menentukan tingkat kesesuaian lahan ditentukan dengan metode pengharkatan dengan mengambil beberapa parameter serta pembobotan dalam menentukan tingkat kesesuaiannya. Kesesuaian lahan untuk perikanan tambak yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:

PT = S(E) + LR(< 3) + R(< 2000) + P(< 4000) + PL(r, b)+MP(n) + J(< 2000) + RTR W(B)

Keterangan:

PT = Wilayah potensial untuk perikanan tambak

S = Jenis tanah Entisol (E) LR = Kelerengan datar : (0 – 3%)

R = Jarak dari sungai (0 – 2000 meter)

P = Jarak dari pantai (0 – 4000 meter)

PL = Jenis penggunaan lahan : rawa (r) atau belukar (b)

MP = Mata Pencaharian Penduduk nelayan (n)

J = Jarak dari jalan (0 – 2000 meter)

RTRW = Rencana penggunaan lahan untuk budidaya (B)

Matriks Kesesuaian Lahan Budidaya Perikanan Tambak

No.ParameterbobotTingkat Kesesuaian     
SesuaiSkorSesuai BersyaratSkorTidak SesuaiSkor
1Abiotik
Lereng100-2%32-15%2<15%1
Tanah8Entisol3Entisol2Non Entisol1
Hidrologi (Jarak dari sungai)80-500 m3500-2000 m2>2000 m1
Pantai (Jarak dari pantai)80-2000 m32000-4000 m2>4000 m1
2Biotik
3Sosial Ekonomi
Penggunaan lahan6Hutan, rawa, tegalan, belukar3Sawah, perkebunan2Konservasi, mangrove, pemukiman, Induetri.1
Mata pencaharian penduduk4Nelayan3Pedagang2PNS, Swasta1
Aksesibilitas6<1000 m31000-2000 m2>2000 m1
4Kebijakan Pemerintah
RTRW10Budidaya3Non budidaya2Non budidaya1

Kesesuaian lahan pariwisata pesisir yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:

PP = P(p) + I(c) + B(< 5) + V (k, pp) + PL(It) + MP(n, d) + J(< 500) + S(at, h) + RTRW (P)

Keterangan:

PP = Wilayah potensial untuk pariwisata pesisir

P = Jenis pantai: berpasir (p)

I = Kecerahan perairan: cerah

B = Kedalaman perairan (0 – 5 meter)

V=Vegetasi: kelapa (k), pines pantai (pp)

PL = Penggunaan lahan: Lahan Terbuka (It)

MP = Mata Pencaharian Penduduk: nelayan (n), pedagang (d)

J = Jarak dari jalan (0 – 500 meter)

S = Sarana: Air tawar (at), Hotel (h)

Matriks Kesesuaian Lahan Pariwisata Bahari (Renang dan Rekreasi Pantai)

No.ParameterbobotTingkat Kesesuaian
SesuaiSkorSesuai BersyaratSkorTidak SesuaiSkor
1Abiotik
Kontur kedalaman10Landai (0-5 m)3Landai (5-10 m)2Curam (> m)1
Kecerahan peraiaran6Cerah3Kurang cerah2Tidak cerah1
Jenis pantai6Berpasir3Tidak berpasir2Tidak berpasir1
2Biotik
Vegetasi6Kelapa, semak3Belukar tinggi2Mangrove1
3Sosial Ekonomi
Penggunaan lahan4Lahan terbuka3Lahan terbuka2Pemukiman, pelabuhan1
Mata pencaharian penduduk4Nelayan, pedagang3Nelayan2PNS, swasta1
Aksesibikitas40-500 m3500-1000 m2>1000 m1
Sarana4Tersedia air tawar3Tidak tersedia air tawar2Tidak tersedia air tawar1
4Kebijakan pemerintah
RTRW10Pariwisata3Non pariwisata2Non pariwisata1

Kesesuaian lahan kawasan konservasi yang berhasil dirancang melalui model matematis berikut:

PK = S(E) + V(p, m) + PL(h) + RTRW (K)

Keterangan:

PK = Wilayah potensial untuk kawasan Konservasi

S = Jenis tanah: (E) Entisol

=Vegetasi: pinus (p), mangrove (m)

PL = Penggunanan Lahan: hutan (h)

RTRW = Rencana penggunaan lahan untuk: (K) konservasi

Matriks Kesesuaian Lahan Kawasan Konservasi

No.ParameterbobotTingkat Kesesuaian     
SesuaiSkorSesuai BersyaratSkorTidak SesuaiSkor
1Abiotik
Tanah6Entisol3Entisol2Non Entisol1
2Biotik
Vegetasi10Mangrove3Pinus2Kelapa1
3Sosial Ekonomi
Penggunaan lahan8Cagar alam3Hutan pantai, taman wisata alam2Pemukiman, pelabuhan1
4Kebijakann pemerintah
RTRW10Konservasi3Non Konservasi2Non Konservasi1

Analisis kesesuaian lahan pesisir Kota Bengkulu untuk berbagai peruntukan, budidaya perikanan tambak, pariwisata bahari (renang dan rekreasi pantai), dan konservasi wilayah pesisir dilakukan dengan teknik yang sama. Pertama, penetapan persyaratan (parameter dan kriteria), pembobotan dan scoring. Untuk masing-masing peruntukkan, penetapan persyaratan tidak sama. Parameter yang menentukan diberikan bobot terbesar sedangkan kriteria, (batas-batas) yang sesuai diberikan skor tertinggi. Parameter, bobot dan skor sistem penilaian masingmasing kesesuaian lahan disajikan dalam bentuk matriks kesesuaian lahan.

Kedua perhitungan nilai peruntukkan lain. Penghitungan kesesuaian dilakukan dengan mengalikan bobot dengan skor, untuk sesuai (skor 3), sesuai bersyarat (skor 2) dan tidak sesuai (skor 1). Ketiga, pembagian kelas lahan. Berdasarkan perkalian bobot dan skor tersebut pembagian kelas lahan dan nilainya dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelas yaitu Kelas S1: Sesuai; Kelas S2: Sesuai Bersyarat dan Kelas N: Tidak Sesuai. Klasifikasi tingkat kesesuaian lahan berdasarkan jumlah perkalian bobot dan skor, kesesuaian lahan untuk budidaya, perikanan tambak, wisata bahari dan kawasan konservasi ditunjukkan dalam Tabel.

Total Skor pada   Tingkat Kesesuaian Lahan
Budidaya Perikanan Tambak Pariwisata Bahari Kawasan Konservasi
120 – 180 100 – 150 68 – 102 Sesuai
60 – 120 50 – 100 34 – 68 Sesuai bersyarat
<60 <50 <34 Tidak sesuai

Keempat, memadankan (membandingkan) nilai lahan dengan nilai masing-masing kelas lahan. Pada tahapan ini dilakukan overlay beberapa data spasial berupa peta berformat SHP, yang telah diberikan data atribut, sesuai dengan formula yang telah dibuat untuk menilai keseuaian lahan. Proses yang dilakukan adalah menggunakan plagin union utuk menyatukan gari-garis pada peta layer hang telah diberikan bobot sehigga menghasilkan peta baru berupa peta kesesuaian lahan.

OUTPUT

Kelima, penyajian grafis (spasial) hasil analisis berupa peta kesesuian lahan. Peta kesesuaian lahan telah berhasil diciptakan, tinggal memberikan anotasi berupa keterangan simbol pada data table. Peta telah siap untuk disajikan.

Analisis Keruangan Pada Sistem Informasi Geografis (SIG) Terkait Kesehatan Lingkungan

Bahasan berikut menggunakan jurnal ilmiah dari Andri Ruliansyah, Totok Gunawan dan Sugeng Juwono M yang berjudul Pemanfaatan Citra Pengindraan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Daerah Rawan Demam Berdarah Dengue (Studi Kasus di Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat).

INPUT

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril akut yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis, disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Sampai sekarang, DBD masih merupakan masalah kesehatan masyarakat penting di Indonesia dan sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan kematian tinggi.

Seluruh wilayah Indonesia mempunyai risiko untuk terjangkit penyakit DBD , kecuali daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas dan kepadatan penduduk, keberadaan kontainer buatan maupun alami di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) ataupun di tempat sampah lainnya, perilaku masyarakat maupun kegiatan pemberantasan yang dilakukan.

Fenomena penyebaran virus DBD, antara lain dapat dilihat dari perspektif informasi keruangan (geospasial), misalnya berdasarkan informasi suhu, curah hujan, kelembaban, dan penutupan lahan tertentu yang merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya DBD. Dari beberapa laporan, diketahui DBD sering muncul pada saat musim penghujan di daerah dengan temperatur tropis, kelembaban tinggi, tutupan vegetasi relatif rapat, kawasan pemukiman yang padat, dan ketinggian kurang dari 1.000 m dpl.

Perkembangan nyamuk juga dipengaruhi karakteristik dan distribusi curah hujan di suatu wilayah. Semakin banyak hari hujan dengan intensitas normal, mengakibatkan perkembangan nyamuk cenderung meningkat, namun sebaliknya pada intensitas curah hujan normal akan tetapi hari hujannya relatif sedikit, perkembangan nyamuk cenderung berkurang. Selain itu, apabila terjadi kemarau basah biasanya pertumbuhan nyamuk cenderung lebih banyak. Faktor lain yang berpengaruh bagi penyebaran DBD adalah banyaknya perpindahan penduduk dari daerah satu ke daerah lainnya. Penduduk yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue (menderita sakit DBD atau tidak), dimungkinkan dapat menjadi penyebab DBD bagi penduduk lain.

Informasi keruangan tentang penyebaran kasus DBD, misalnya pada lingkungan fisik dan sosial dalam batas tertentu, didapatkan Melalui teknologi pengindraan jauh. Wilayah di permukaan bumi dikaji berdasarkan keragaman pola yang tampak pada citra satelit, selanjutnya diubah menjadi satuan-satuan daerah analisis dalam bentuk satuan bentang lahan yang berkorelasi dengan tipe-tipe habitat vektor DBD.

Dari isi pendahuluan pada karya ilmiah tersebut dapat dianalisis data apa yang diperlukan sebagai input, baik berupa data spasial berformat vektor dan raster, atau data atribut berupa data tabel.

Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer didapatkan dari hasil survei dan pengukuran variabel lingkungan misalnya: penentuan koordinat posisi rumah penderita DBD, pengamatan kepadatan vektor. Data sekunder didapatkan dari dokumentasi instansi terkait berupa data curah hujan dan penggunaan lahan. Citra yang digunakan adalah: Quickbird wilayah Kecamatan Pangandaran Kabupaten Ciamis Tahun 2007, dan peta digital rupa bumi Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) skala 1:25.000.

bagan alir penelitian
bagan alir penelitian

PROSES

Penentuan klasifikasi zona tingkat kerawanan DBD di Kecamatan Pangandaran didasarkan pada formula Strugess sebagai berikut:

KI=\frac{(jumlah\; nilai\;maksimum)-(jumlah\;nilai\;minimum)}{jumlah\;kelas}

KI=\frac{(24)-(6)}{3}

KI=6

 

Tabel Klasifikasi Variabel – Variabel Lingkungan di Kecamatan Pangandaran

VariabelKlasifikasiSkor
Penggunaan LahanPemukiman padat6
Perkantoran, Sekolah, Pabrik, Hotel, Pasar5
Pemukiman tidak padat4
Kolam, Kebun, Sawah, Hutan3
Lahan Kosong, Taman2
Jalan, Sungai1
Kepadatan NyamukDF > 5 6
DF 1-53
DF < 11
Ketinggian (mdpl)< 100 mdpl6
100 – 500 mdpl3
> 500 mdpl1
Kemampuan Terbang
Nyamuk
< 240 meter6
240 – 750 meter3
> 750 meter1
Curah Hujan> 25 mm/hari6
20 – 25 mm/hari 5
15 – 20 mm/hari4
10 – 15 mm/hari3
5 – 10 mm/hari2
< 5 mm/hari1

Tabel Kelas Potensi / Zona Tingkat Kerawanan DBD di Kecamatan Pangandaran

KelasInterval Zona
119 – 12Kerawanan Tinggi
213 – 18Kerawanan Sedang
36 – 12Kerawanan Rendah

OUTPUT

Peta Hasil Penelitian SIG
Peta Hasil Penelitian dengan SIG

 

Sumber:

Sakti Adji Adisasmita, Jaringan Transportasi, Graha Ilmu

Johannes Parlindungan, Tata Guna Lahan Dan Pertumbuhan Kawasan Pengantar Perencanaan Wilayah Dan Kota, Disampaikan Dalam Mata Kuliah Pengantar Pwk Jurusan Perencanaan Wilayah Dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: Km. 49 Tahun 2005 Tentang Sistem Transportasi Nasional (Sistranas)

Gregorius Anung Hanindito, Eko Sediyono, Adi Setiawan, ANALISIS PANTAUAN DAN KLASIFIKASI CITRA DIGITAL PENGINDRAAN JAUH DENGAN DATA SATELIT LANDASAT TM MELALUI TEKNIK SUPERVISED CLASSIFICATION (STUDI KASUS KABUPATEN MINAHASA TENGGARA, PROVINSI SULAWESI UTARA), Prosiding Seminar Ilmiah Nasional Komputer dan Sistem Intelijen (KOMMIT 2014) Vol. 8 Oktober 2014, Universitas Gunadarma – Depok.