Materi 10.5 DINAMIKA LITOSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

Download PDF

Struktur Lapisan Bumi

Lapisan kulit bumi sering disebut litosfer. Berasal dari kata litos artinya batu, sfeeratau sphaira artinya bulatan. Jadi litosfer adalah lapisan kerak bumi atau kulit bumi yang terdiri dari batu-batuan yang keras dan tanah, sedangkan tanah itu sendiri berasal dari batuan yang melapuk. Batu-batuan pembentuk lapisan kerak bumi ini banyak mengandung mineral-mineral yang berbentuk Kristal dan hablur. Selain itu ada juga beberapa jenis logam.

Tebal kulit bumi tidak merata. Kulit bumi di bagian benua atau daratan lebih tebal daripada di bawah samudera. Bumi tersusun atas beberapa lapisan :

Barisfer, yaitu lapisan inti bumi merupakan bahan padat yang tersusun atas lapisan nife (niccolum = nikel dan ferrum = besi). Jari-jarinya ± 3.470 Km dan batas luarnya ± 2.900 Km di bawah permukaan bumi.

Asthenosfer (Mantle), adalah lapisan pengantara yaitu lapisan yang terdapat di atas barisfer setebal ± 1.700 Km. berat jenisnya rata-rata 5 gram/cm3, merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan berpijar.

Litosfer, yaitu lapisan yang terletak di atas asthenosfer, dengan ketebalan ± 1.200 Km. berat jenisnya rata-rata 2,8 gram/cm3. Litosfer terdiri atas dua bagian :

  1. Lapisan Sial, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan aluminium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3. Dalam lapisan ini terdapat batuan antara lain batuan sedimen, granit, andesit, dan batuan metamorf. Lapisan sial disebut juga lapisan kerak bersifat padat dan kaku memiliki ketebalan ± 35 Km. kerak ini dibagi menjadi dua bagian yakni :
  2. Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian atasnya dan batuan beku basalt pada bagian bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai benua.
  3. Kerak samudera, merupakan benda padat yang terdiri atas endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya terdapat Batu-batuan vulkanik dan lapisan yang paling bawah tersusun atas batuan beku gabro dan peridotit. Kerak ini menempati sebagai samudera.
  4. Lapisan Sima, yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO. Lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar daripada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium, yaitu mineral ferromagnesium dan batuan basalt. Lapisan sima merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata-rata 65 Km.

Tenaga Yang Mengubah Bentuk Permukaan Bumi

Read more: Tenaga Yang Mengubah Bentuk Permukaan Bumi

Tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi terdiri dari tenaga endogen dan eksogen.

Tenaga endogen

Merupakan tenaga yang berasal dari dalam bumi. Tenaga ini dapat memberi bentuk relief di permukaan bumi. Tenaga endogen ada yang mempunyai sifat membangun dan ada yang mempunyai sifat merusak. Tetapi secara umum tenaga endogen bersifat membangun. Tenaga endogen merupakan kekuatan yang mendorong terjadinya pergerakan kerak bumi. Pergerakan ini disebut diastropisme. Adanya tenaga endogen menyebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi. Pergeseran kerak bumi akan menjadikan permukaan bumi berbentuk cembung, seperti pegunungan atau gunung berapi, serta berbentuk cekung, seperti laut dan danau. Adapun yang termasuk tenaga endogen meliputi:

Vulkanisme

Yang dimaksud dengan vulkanisme adalah peristiwa yang berhubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas. Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya. Magma ini dapat berbentuk gas, padat dan cair.

Intrusi magma, adalah aktivitas magma di dalam lapisan litosfer, memotong atau menyisip litosfer dan tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma disebut juga plutonisme. Ekstrusi magma adalah kegiatan magma yang mencapai permukaan bumi. Ekstrusi magma merupakan kelanjutan dari intrusi magma.

Dilihat dari bentuk dan terjadinya, ada tiga macam gunung api, yaitu:

  1. Gunung Api Maar. Bentuknya seperti danau kecil (danau kawah). Terjadi karena letusan eksplosif. Bahannya terdiri dari efflata. Contohnya gunung Lamongan di Jawa Timur.
  2. Gunung Api Kerucut (Strato). Bentuknya seperti kerucut, terjadi karena letusan dan lelehan effusif, secara bergantian. Bahannya berlapis-lapis, sehingga disebut lava gunung api strato. Jenis ini yang terbanyak terdapat di Indonesia.
  3. Gunung Api Perisai (Tameng). Bentuknya seperti perisai, terjadi karena lelehan maupun cairan yang keluar dan membentuk lereng yang sangat landai. Bahan lavanya bersifat cair sekali. Sudut kemiringan lereng antara 1o – 10o. contohnya Gunung Maona Loa dan Kilanca di Hawaii.

Kuat atau lemahnya ledakan gunung api tergantung dari: tekanan gas, kedalaman dapur magma, luasnya dapur magma, dan sifat magma (cair atau kental).

Enam macam erupsi:

Tipe Hawaiian

erupsi yang umumnya berupa semburan lava pijar seperti air mancur dan pada saat bersamaan diikuti leleran lava pada celah-celah gunung berapi atau kepundan. Semburan ini bisa berlangsung selama berjam-berjam hingga berhari-hari. Karena sangat cair, semburan lava ini bisa mengalir berkilometer-kilometer jauhnya dari puncak gunung.

Erupsi tipe Hawaiian merujuk pada Gunung Berapi Kilauea yang terkenal akan semburan lavanya yang spektakuler. Dua contoh erupsi jenis ini adalah letusan kawah Kilauea Iki di puncak Gunung Kilauea (1959) dan letusan Maula Ulu pada 1969-1974.

Tipe Merapi

Letupan tipe ini diambil dari letusan gunung Merapi. Tipe letusan ini biasanya terjadi pada gunung api tipe andesit yang berbentuk kerucut. Fragmen-fragmen guguran lava terbentuk ketika kubah lava tidak stabil pada gunung api.

Tipe Strombolian

hampir sama dengan Hawaiian berupa semburan lava pijar dari magma yang dangkal, umumnya terjadi pada gunung api sering aktif di tepi benua atau di tengah benua.

Nama Strombolian diadopsi dari letusan gunung berapi Stromboli di Italia.

Beberapa letusan gunung berapi di Indonesia, seperti Gunung Raung di Bali dan Gunung Sinabung di Sumatera Utara dapat dikategorikan sebagai tipe Strombolian yang mengeluarkan lava yang cair tipis, tekanan gas yang sedang, material padat, gas, serta cairan.

Letusan tipe ini tidak terlalu kuat, tetapi bersifat terus menerus, berlangsung dalam jangka waktu yang lama, serta tak dapat diperkirakan kapan berakhir.

Tipe Vulkanian

erupsi magmatik berkomposisi andesit basaltik sampai dasit, umumnya melontarkan bongkahan di sekitar kawah. Material yang dilontarkan tidak hanya berasal dari magma tetapi bercampur dengan batuan samping berupa litik.

Letusan tipe ini dicetuskan Guiseppe Mercalli yang menyaksikan letupan di Pulau Vulcano, sebelah utara Italia, tahun 1888-1890. Letusan ini diawali dengan letusan freatomagmatik yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras. Hal ini terjadi karena adanya interaksi antara magma dan air di bawah permukaan.

Material yang dihasilkan oleh letusan tipe Vulcanian lebih luas dibandingkan letusan tipe Hawaiian dan Strombolian. Letusan tipe Vulcanian pernah terjadi pada gunung api Guego (Guatemala, 1944), Augustine (Alaska, 1976), Sakurajima (Jepang, 1985).

Tipe Pelean

Letusan tipe ini dinamai sesuai dengan letusan Gunung Pelee di Pulau Martinique, kawasan Karibia, tahun 1902. Jenis erupsi ini menyerupai letusan Vulkanian, hanya saja terdapat campuran gabungan lava dan tingkat gas yang tinggi. Saat erupsi, lava tersebut cenderung encer dan mengalir dengan kecepatan tinggi sehingga sangat membahayakan.

Beberapa contoh letusan tipe Pelean adalah gunung Hibok-Hibok (1948-1951)

Tipe Plinian

merupakan letusan paling eksplosif. Material yang dilontarkan bisa berupa gas dan abu setingi 50 kilometer dengan kecepatan beberapa ratus meter per detik. Biasanya erupsi tipe Plinian berwujud seperti jamur. Letusan jenis ini dinamai sesuai dengan sejarawan Romawi, Pliny, yang mencatat sejarah meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79 Sesudah Masehi.

Letusan tipe Plinian bisa menghilangkan seluruh puncak gunung, seperti yang terjadi pada Gunung St Helens pada 1980. Namun, durasinya cukup singkat, kurang dari sehari atau beberapa hari. Beberapa gunung berapi yang mempunyai karakteristik letusan tipe Planian yaitu Krakatau (Indonesia, 1883) dan Tambora (Indonesia, 1815).

Menurut aktivitasnya, gunung api dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

  1. Gunung Api Aktif, yaitu gunung api yang masih bekerja yang kawahnya selalu mengeluarkan asap, gempa, dan letusan. Misalnya gunung Stromboli.
  2. Gunung Api Mati, yaitu gunung api yang sejak tahun 1600 sudah tidak meletus lagi. Misalnya gunung Patuha, gunung sumbing, dan sebagainya.
  3. Gunung Api Istirahat, yaitu gunung api yang sewaktu-waktu meletus dan kemudian istirahat kembali, misalnya gunung Ciremai, gunung Kelud, dan sebagainya.

Bagian-bagian dari gunung berapi terdiri atas:

  1. Kaldera, ialah kawah kepundan yang amat besar, luas, dan bertebing curam yang ada di puncak gunung berapi. Kaldera terjadi sewaktu gunung api meletus dengan hebat dan sebagian dari puncak gunung api itu terbang, gugur ke dalam pipa kawah.
  2. Saluran Diaterma (Saluran Kepundan), yaitu lubang besar yang berbentuk pipa panjang dari puncak ke sumber magma tempat mengalirnya magma keluar permukaan bumi.
  3. Dapur Magma, yaitu sumber dari kumpulan magma yang merupakan panas dari kerak bumi berada.
  4. Sill, adalah magma yang masuk di antara dua lapisan bahan sedimen dan membeku (intrusi datar).
  5. Lakolit, adalah magma yang masuk di antara batuan sedimen dan menekan ke atas sampai bagian atas cembung dan bagian bawah datar.
  6. Batolit, adalah magma yang menembus lapisan batu-batuan dan membeku di tengah jalan.
  7. Gang, yaitu batuan dari intrusi magma yang memotong lapisan batuan yang berbentuk pipih atau lempeng.
  8. Apofisa, yaitu cabang dari erupsi korok (gang).

Bahan-bahan yang dikeluarkan oleh gunung berapi, antara lain:

  1. Efflata (Benda Padat).

Menurut asalnya efflata dibagi dua, yakni:

  • efflata allogen: berasal dari batu-batuan sekitar pipa kawah yang ikut terlempar, dan
  • efflata antogen: berasal dari magma sendiri atau disebut juga pyroclastic.

Menurut ukuran, efflata dibedakan atas:

  • bom yaitu batu-batuan besar,
  • lapili yaitu batu-batuan sebesar kacang atau kerikil,
  • pasir,
  • debu, dan
  • batu apung.

Bahan Cair

Terdiri atas :

  • Lava, yaitu magma yang telah sampai di luar;
  • Lahar Panas, berupa lumpur panas mengalir yang terjadi dari magma yang bercampur air.
  • Lahar Dingin, yaitu lumpur magma yang telah mendingin.

Ekshalasi (Bahan Gas)

Terdiri atas:

  • Solfatara, yaitu gas belerang (H2S) yang keluar dari dalam lubang;
  • Fumarol, yaitu uap air;
  • Mofet, yaitu gas asam arang (CO2).
Bahaya Gunung Api

Gunung merapi yang sedang meletus sangat berbahaya karena mengeluarkan:

  1. Banjir lahar;
  2. Banjir lava;
  3. Gelombang pasang;
  4. Awan emulsi.
Manfaat gunung api

Antara lain :

  1. Menyuburkan tanah.
  2. Dapat mendatangkan hujan.
  3. Memperluas daerah pertanian karena semburan dan vulkanik
  4. Memperbanyak jenis tanaman budi daya.
  5. Menyebabkan letak mineral (barang tambang) dekat dengan permukaan tanah.
  6. Menjadi tempat pariwisata dan sanatorium, karena udaranya yang sejuk.
  7. Dapat dimanfaatkan sebagai pusat pembangkit tenaga listrik (geotermal).
Peristiwa pos vulkanis

Adalah peristiwa yang terdapat pada gunung berapi yang sudah mati atau yang telah meletus. Yang termasuk peristiwa pos vulkanis adalah :

  1. Makdani, adalah mata air mineral yang biasanya panas. Mata air ini biasanya dapat dimanfaatkan untuk pengobatan, khususnya penyakit kulit.
  2. Geiser, adalah mata air yang memancarkan air panas secara periodik. Ada yang memancar setiap jam, satu hari, sampai satu minggu. Tinggi pancarannya dapat mencapai 10 – 100 meter.

Peristiwa mengalirnya magma keluar permukaan bumi disebut dengan erupsi. Berdasarkan kekuatan letusannya, erupsi gunung berapi dapat dibedakan atas 3 jenis yaitu :

  1. Erupsi Effusif, yaitu erupsi yang terjadi dengan sangat lemah, tidak menimbulkan ledakan2.
  2. Erupsi Eksplosif, yaitu erupsi yang terjadi dengan sangat kuat, disertai dengan ledakan2 dahsyat.
  3. Erupsi Campuran, kekuatan erupsi campuran tidak sekuat erupsi eksplosif, namun lebih kuat dari erupsi effusif.

Berdasarkan bentuk dan lokasi dari tempat keluarnya magma, erupsi dapat dibedakan menjadi:

  1. Erupsi Vent (Erupsi Sentral). Pada erupsi jenis ini, magma keluar melalui pipa kepundan gunung api dan jangka waktu erupsinya pendek.
  2. Erupsi Linear (Fissure Eruption). Erupsi jenis ini tidak melalui lubang kepundan gunung berapi, melainkan keluar meleleh lewat retakan2 kerak bumi.
  3. Erupsi Areal. Yaitu magma keluar melalui lubang yang besar, karena magma terletak sangat dekat dengan permukaan bumi sehingga magma menghancurkan dapur magma yang menyebabkan magma meleleh keluar ke permukaan bumi. Misalnya Yellow Stone National Park di Amerika Serikat yang luasnya 10.000 Km2.
Gunung Api di Indonesia

Di Indonesia  terdapat beberapa deretan pegunungan, yaitu:

  1. Deretan pegunungan Sunda, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan berakhir di Pulau Banda.
  2. Deretan Sirkum Australia, yaitu deretan pegunungan yang berjajar dari Australia, ujung timur Pulau Irian, masuk melalui bagian tengah Irian dengan puncak tertinggi Jayawijaya.
  3. Deretan pegunungan Sangihe, yaitu deretan pegunungan yang membujur dari Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara), masuk ke Minahasa, Teluk Gorontalo (dengan Gunung Una-Una yang sering meletus) hingga Sulawesi Selatan.
  4. Deretan Pegunungan Halmahera, yaitu deretan pegunungan yang berderet mulai dari Pulau Talaut, Pulau Maju dan Tifor di Maluku Utara, masuk ke Halmahera serta Pulau Ternate dan Tidore, berbelok ke timur hingga Kepala Burung
  5. Deretan Pegunungan Kalimantan, deretan ini bermula dari Pulau Palawan (Filipina) kemudian masuk ke Kalimantan.

Seisme (Gempa Bumi)

Gempa bumi adalah getaran pada permukaan kulit bumi yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan dari dalam bumi. Timbulnya getaran ini dikarenakan adanya retakan atau dislokasi pada kulit bumi. Jika terjadinya getaran karena adanya retakan di dasar laut, yang kemudian merambat melalui air laut, maka terjadilah gempa laut yang dapat mengguncangkan kapal-kapal dan menimbulkan gelombang pasang yang mencapai puluhan meter tingginya. Peristiwa ini disebut dengan tsunami.

Dilihat dari intensitasnya ada dua macam jenis gempa yaitu:

  1. Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa menggunakan alat.
  2. Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.

Hal Ikhwal mengenai gempa bumi perlu diselidiki agar akibat yang ditimbulkannya dapat diramalkan dan upaya penanggulangannya dapat dilakukan. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombang-gelombang seismik serta perambatannya disebut seismologi.

Dalam kajian seismologi di perlukaan berbagai alat. Salah satu alat yang terpenting adalah seismograf atau alat untuk mencatat gempa. Ada dua macam seismograf, yaitu:

  1. Seismograf Horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah horizontal.
  2. Seismograf Vertikal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah vertikal.

Sumber gempa di dalam bumi disebut dengan Hiposentrum. Dari hiposentrum ini di teruskan ke segala arah. Tempat hiposentrum ini ada yang dalam sekali, dan ada yang dangkal. Di Indonesia terdapat hiposentrum yang dalamnya lebih dari 500 Km, contohnya di bawah laut Flores ± 720 Km. Pusat gempa pada permukaan kulit bumi di atas hiposentrum disebut dengan Episentrum. Kerusakan yang terbesar terdapat di sekitar episentrum. Daerah2 yang mengalami gempa dapat dibuat peta. Pada peta tersebut ada beberapa macam garis, yaitu:

  1. Homoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang pada saat yang sama mengalami getaran gempa.
  2. Isoseiste, yaitu garis yang menghubungkan tempat2 yang dilalui oleh gempa yang sama intensitasnya.
  3. Pleistoseiste, yaitu garis yang mengelilingi daerah yang mendapat kerusakan terhebat dari gempa bumi.

Gempa bumi merambat melalui tiga macam getaran, yaitu:

  1. Getaran Longitudinal (Merapat Merenggang). Getaran ini berasal dari hiposentrum dan bergerak melalui dalam bumi, kecepatan getarannya sangat cepat, hingga mencapai 7 sampai 14 Km per jam. Getaran ini datangnya paling awal dan merupakan getaran pendahuluan yang pertama, itulah sebabnya disebut juga getaran primer. Getaran ini belum menimbulkan kerusakan
  2. Getaran Transversal (Naik-Turun) Getaran ini asalnya juga dari hiposentrum dan bergerak juga melalui dalam bumi. Kecepatan getaran ini antara 4 sampai 7 Km per jam. Getaran ini datang setelah getaran longitudinal dan merupakan getaran pendahuluan kedua yang disebut getaran sekunder.
  3. Getaran Gelombang Panjang. Getaran ini asalnya dari episentrum dan bergerak melalui permukaan bumi. Kecepatan getaran ini antara 3,8 sampai 3,9 Km per jam. Getaran ini datangnya paling akhir, tetapi merupakan getaran pokok. Getaran ini yang menimbulkan kerusakan.

Klasifikasi Gempa

Kita dapat membedakan macam-macam gempa bumi berdasarkan:

Hiposentrum gempa atau jarak pusat gempa yaitu :

  1. Gempa Dalam, jika hiposentrumnya terletak antara 300-700 Km di bawah permukaan bumi.
  2. Gempa Intermidier, jika hiposentrumnya terletak antara 100-300 Km di bawah permukaan bumi.
  3. Gempa Dangkal, jika hiposentrumnya terletak dari 100 Km di bawah permukaan bumi.

Atas dasar bentuk episentrumnya, dibedakan:

  1. Gempa Linier, jika episentrumnya berbentuk garis. Contohnya gempa tektonik karena bentuknya bisa berupa daerah patahan.
  2. Gempa Sentral, jika episentrumnya berbentuk titik. Contohnya gempa vulkanik atau gempa runtuhan.

Atas dasar letak episentrum gempa, dibedakan atas:

  1. Gempa Laut, jika episentrumnya terletak di dasar laut.
  2. Gempa Daratan, jika episentrumnya di daratan.

Atas dasar jarak episentrum, gempa dibedakan atas:

  1. Gempa Setempat, jika jarak tempat gempa terasa sampai ke episentrumnya kurang dari 10.000 Km.
  2. Gempa Jauh, jika episentrum dan tempat gempa terasa berjarak sekitar 10.000 Km
  3. Gempa Sangat Jauh, jika episentrum dan tempat gempa terasa lebih dari 10.000 Km.

Atas dasar peristiwa yang menyebabkan gempa, dapat dibedakan atas:

  1. Gempa Tektonik atau Gempa Dislokasi, yaitu gempa yang terjadi setelah terjadinya dislokasi atau karena gerakan lempeng. Gempa inilah yang dapat berakibat parah, terutama jika jarak hiposentrumnya dangkal.
  2. Gempa Vulkanik, yaitu gempa yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah peristiwa letusan gunung api.
  3. Gempa Runtuhan, gempa yang terjadi akibat runtuhnya bagian atas litosfer, karena bagian sebelah dalam bumi berongga. Misalnya gempa di daerah kapur.
  4. Gempa Buatan, yaitu gempa yang disebabkan oleh perbuatan manusia. Misalnya gempa yang terjadi akibat ledakan dinamit yang di gunakan untuk membuat gua/lubang untuk kegunaan penggalian atau pertambangan.

Untuk menentukan letak episentrum caranya sebagai berikut:

Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf. Cara ini dengan mengguna-kan 3 seismograf, yaitu satu seismograf vertikal, atau seismograf horizontal yang berarah utara dan selatan sedang satu lagi seismograf berarah timur dan barat.

Dengan menggunakan tiga tempat yang terletak satu homoseiste. Cara ini dengan menggunakan seismograf di tiga tempat yang merasakan getaran gempa pada saat yang sama. Pertama-tama kita hubungkan tempat seismograf yang satu homoseiste. Karena tiga seismograf maka didapat dua garis. Dua garis itu dibuat garis sumbu, sehingga episentrum terletak pada pertemuan dua garis sumbu.

Dengan menggunakan tiga tempat yang mencatat jarak episentrum. Untuk menentukan jarak episentrum digunakan rumus Laska :

∆ = { (S – P ) } – 1′ x 1.000 Km

∆ = delta = jarak episentrum

S – P = selisih waktu pencatatan gelombang primer dengan gelombang sekunder dalam satuan menit.

1′ = satu menit.

Contoh :

Gelombang S tiba pada pukul 10.29’44”, sedang gelombang P tiba pada pukul 10.25’14”. berapakah jarak episentrum sebuah seismograf dari daerah Z ?

Jawab:

{ ( 10.29’44” – 10.25’14” ) } – 1′ x 1.000 Km

= ( 4 1/2 – 1′ ) x 1.000 Km = 3.500 Km.

Sekarang misalnya letak episentrum dari tiga tempat, yaitu Z = 3.500 Km, Y= 5.250 Km, dan X = 3.750 Km.

Maka cara membuatnya =:

Dibuat perbandingan skala horizontal 1 cm = 1000 Km. maka Z = 3,5 cm, Y = 5,25 cm, X = 3,75 cm.

Buat lingkaran sesuai jari-jari Z,Y,X.

Ketiga lingkaran akan berpotongan pada satu titik E (episentrum).

Dengan menggunakan lingkaran isoseiste. Dari laporan secara visual dapat dibuat tanda2 pada peta yang kemudian dapat ditentukan beberapa isoseiste di daerah bencana gempa. Dengan mengetahui lingkaran atau elips isoseiste itu dari luar ke arah dalam, dapat ditentukan tempat episentrum.

Skala Gempa

Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)

I MMI

Getaran tidak dirasakan kecuali dalam keadaan luar biasa oleh beberapa orang

II MMI

Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

III MMI

Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu.

IV MMI

Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik dan dinding berbunyi.

V MMI

Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

VI MMI

Getaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII MMI

Tiap-tiap orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan yang konstruksinya kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.

VIII MMI

Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Retak-retak pada bangunan degan konstruksi kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air menjadi keruh.

IX MMI

Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak retak. Rumah tampak agak berpindah dari pondamennya. Pipa-pipa dalam rumah putus.

X MMI

Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI

Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.

XII MMI

Hancur sama sekali, Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.

 

Skala Richter

Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter. Persamaan dasar yang digunakan adalah:

Di mana A adalah ekskursi maksimum dari seismograf Wood-Anderson

Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter ini, tanpa melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti gambar di samping ini. Parameter yang harus diketahui adalah amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam milimeter) dan beda waktu tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau jarak antara seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer). Dalam gambar di samping ini dicontohkan sebuah seismogram mempunyai amplitudo maksimum sebesar 23 milimeter dan selisih antara gelombang P dan gelombang S adalah 24 detik maka dengan menarik garis dari titik 24 dt di sebelah kiri ke titik 23 mm di sebelah kanan maka garis tersebut akan memotong skala 5,0. Jadi skala gempa tersebut sebesar 5,0 skala Richter.

Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya.

Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi.

Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama.

Skala Richter Efek Gempa
2.0-2.9 Tidak terasa, namun terekam oleh alat
10.0-10.9 Terasa dan dapat menghancurkan sebuah benua
3.0-3.9 Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan
9.0-9.9 Menghancurkan area ribuan mil
< 2.0 Gempa kecil , tidak terasa
11.0-11.9 Dapat terasa di separuh sisi bumi. Biasanya hanya terjadi akibat tumbukan meteorit raksasa. Biasanya disertai dengan gemuruh. Contohnya tumbukan meteorit di teluk Chesepeak.
6.0-6.9 Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km
8.0-8.9 Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil
7.0-7.9 Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas
5.0-5.9 Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik
4.0-4.9 Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.
12.0-12.9 Bisa terasa di seluruh dunia. Hanya terekam sekali, saat tumbukan meteorit di semenanjung Yucatan, 65 juta tahun yang lalu yang membentuk kawah Chicxulub
> 13.0 Belum pernah terekam

Tektonisme

Tektonisme adalah perubahan atau pergeseran letak lapisan kulit bumi secara mendatar atau vertikal. Jadi yang dimaksud dengan gerak tektonik adalah semua gerak naik dan turun yang menyebabkan perubahan bentuk kulit bumi. Gerak ini dibedakan lagi menjadi:

Gerak Epirogenetik, adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lambat, berlangsung dalam waktu yang lama, dan meliputi daerah yang luas.

Ada dua macam gerak epirogenetik,  yaitu:

  • Epirogenetik Positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut naik;
  • Epirogenetk Negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga terlihat seakan permukaan air laut turun.

Gerak Orogenetik, adalah gerak atau pergeseran lapisan kulit bumi yang relatif lebih cepat dan meliputi daerah yang tidak begitu luas. Gerak ini disebut juga gerakan pembentuk pegunungan. Bentuk gerakan orogenetik dapat dibedakan menjadi :

  • Wraping (Pelengkungan). Pada muka bumi yang terdapat bentukan jenis ini, dataran akan melengkung ke atas sehingga terbentuk suatu kubah atau yang disebut juga dengan Dome. Hal ini disebabkan gerak vertikal yang tidak merata di suatu daerah, khususnya di daerah yang berbatuan sedimen. Selain kubah, ada juga yang mengarah ke bawah hingga membentuk cekungan atau basin, diameternya dapat mencapai beberapa mil.
  • Folding (Pelipatan). Pelipatan akan terjadi apabila struktur batuan pada suatu daerah menderita suatu tekanan yang lemah. Namun, berlangsung lama dan belum melampaui titik patah batuan sehingga hanya membentuk lipatan. Bagian puncak suatu lipatan disebut dengan antiklin, sedangkan lembahnya disebut dengan sinklin.
  • Jointing (Retakan). Retakan pada muka bumi terbentuk karena adanya pengaruh gaya regangan yang mengarah ke dua arah yang berlawanan pada muka bumi sehingga terjadi retakan2, tetapi masih bersambung. Retakan biasanya terjadi pada batuan yang rapuh sehingga tenaga yang kecil saja sudah dapat membuat muka bumi retak2. Pada umumnya retakan ini ditemukan pada puncak antiklinal, yang disebut tektonik joint.
  • Faulting (Patahan). Jika folding atau pelipatan membentuk muka bumi dalam waktu yang berlangsung lama maka faulting atau patahan terjadi karena tekanan yang kuat dan berlangsung sangat cepat. Batuan tidak hanya mengalami retakan, juga mengalami displacement atau sudah terpisah satu dengan lainnya. Pada umumnya, daerah sepanjang patahan merupakan daerah pusat gempa bumi karena selalu mengalami pergeseran batuan kerak bumi. Patahan dapat menyebabkan turunnya bagian kulit bumi atau yang disebut dengan graben, atau yang sering disebut juga dengan slenk. Selain menyebabkan turunnya bagian kulit bumi, patahan juga dapat menyebabkan naiknya kulit bumi. Hal ini terjadi apabila bagian di antara dua patahan mengalami pengangkatan sehingga menjadi lebih tinggi dari daerah sekitarnya, atau yang biasa disebut dengan horst.
Prinsip-prinsip Pergeseran Lempeng Litosfer

Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa litosfer yang tipis berada di atas asthenosfer yang bersifat cair (plastis). Menurut para ahli geologi litosfer tersebut terkoyak-koyak di sana-sini sehingga terpecah-pecah membentuk suatu kepingan yang disebut lempeng litosfer dan bergerak akibat adanya arus konveksi di asthenosfer. Jadi, tanah yang kita injak sebetulnya bergerak rata2 sejauh 1 – 10 cm per tahun. Dengan adanya gerakan tersebut maka lempeng litosfer saling berdesakan dan bertumbukan, maka timbul prinsip-prinsip pergeseran lempeng litosfer, yaitu:

Lempeng litosfer saling bertumbukan (divergensi) di mana salah satunya sampai menyusup di bawah lempeng litosfer lainnya.

Lempeng litosfer saling berpapasan, yang membentuk sesar mendatar.

Lempeng litosfer saling memisah (konvergensi), yang membentuk pegunungan di tengah samudera.

Tenaga Eksogen

adalah tenaga yang berasal dari luar bumi, antara lain berasal dari hujan, panas matahari, angin, aliran air, dan luncuran gletser serta makhluk hidup. Tenaga eksogen dapat mengubah bentuk permukaan bumi menjadi berlubang, berbukit dan bentuk lainnya. Tenaga eksogen ini bersifat merusak. Artinya menyebabkan terjadinya kikisan atau erosi, pelapukan, dan pengangkutan material (mass wasting). Pada prosesnya menghasilkan bentuk sisa (residual) dan bentuk endapan (depositional). Tenaga eksogen dapat di bagi menjadi:

  1. Weathering

    (Pelapukan)

Pelapukan adalah segala perubahan dalam batuan karena pengaruh keadaan cuaca (misalnya air, suhu). Adanya perbedaan temperatur yang tinggi dan rendah, sangat besar pengaruhnya terhadap batu-batuan.

Macam-macam jenis pelapukan antara lain:

Pelapukan Fisis (Pelapukan Mekanik)

Pelapukan mekanik merupakan pelapukan batuan yang tidak disertai dengan perubahan susunan kimia, seperti batuan yang besar pecah dan berubah menjadi semakin kecil, selanjutnya sampai halus, tetapi susunan kimianya sama dengan batuan induknya. Sebab-sebab pelapukan mekanis antara lain:

  • Insolasi (pengaruh sinar matahari) dan perubahan suhu.
  • Pengerjaan garam.
  • Daya erosi
  • Gelombang laut yang memukul pantai.

Pelapukan Kimia

Pelapukan kimia merupakan pelapukan batuan melalui proses kimia yang disertai dengan perubahan susunan zat dari mineral batuan induknya. Contohnya : hancurnya batuan karena larutan batuan kapur yang dicampur oleh air hujan yang banyak mengandung CO2.

Pelapukan Biologis (Pelapukan Organik)

Pelapukan organik merupakan pelapukan batuan yang disebabkan oleh organisme-organisme (tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia). Manusia dapat merusak ekosistem yang lebih besar lagi, tetapi dapat juga memelihara ekosistem yang sudah rusak dan memperbaharui lagi. Pelapukan organis sebagian masuk pelapukan fisik dan sebagian masuk pelapukan kimia.

Pelapukan biologis dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

  • Pelapukan biologis fisik, misalnya tekanan akar, merayapnya cacing, dan sebagainya.
  • Pelapukan biologis kimia, misalnya pelapukan bunga tanah (humus), pengerjaan jasad hidup pada batuan, yaitu dengan jalan mengeluarkan zat-zat tertentu.
  1. Erosi (Pengikisan)

Erosi adalah proses pengikisan permukaan bumi oleh tenaga yang melibatkan pengangkatan benda-benda seperti air, es, angin, dan gelombang arus.

Macam-macam jenis erosi, yaitu:

Erosi Air

Air yang mengangkut batu-batuan yang hancur mempunyai kekuatan mengikis lebih besar. Peristiwa gesekan pada erosi air tergantung pada : kecepatan gerak, daya angkut air, dan keadaan permukaan.

Abrasi

adalah pengikisan batuan yang disebabkan oleh pengerjaan air laut. Besar  kecilnya gelombang atau kecepatan angin, dapat menimbulkan perubahan bentuk di sepanjang pantai disebut abrasi platform.

Gletser

pengikisan yang disebabkan oleh pengerjaan es . pengikisan oleh es disebut juga glasial/eksarasi. Di daerah pegunungan yang tinggi sering terdapat salju abadi atau es. Es bergerak turun melalui lereng dan mengikis dasar lereng gunung serta mendorongnya ke lembah.

Korosi

pengikisan yang disebabkan oleh pengerjaan angin

  1. Sedimentasi (Pengendapan)

Lapisan hasil pelapukan yang terjadi di permukaan bumi, baik di daratan yang rata maupun di lereng-lereng bukit, pegunungan atau gunung dipengaruhi oleh bermacam-macam kekuatan. Daerah yang terkena pelapukan maupun yang menerima hasil pelapukan menghasilkan struktur morfologi yang berbeda-beda.

Bentukan-bentukan dalam proses pengendapan atau sedimentasi di daerah pantai antara lain:

  1. Pesisir (Beach).Adalah pantai yang terdiri atas endapan pasir sebagai hasil erosi.
  2. Dune Adalah bukit pasir di daerah pedalaman yang terjadi sebagai akibat hembusan angin di daerah pasir yang luas.
  3. Spit dan Bar. spit adalah material pasir sebagai proses pengendapan yang terdapat di muka teluk, berbentuk memanjang, dan salah satu ujungnya menyatu dengan daratan. Sedangkan ujung lain terdapat di laut.
  4. Bar adalah penggunungan pasir dan kerikil yang diendapkan tepat di seberang teluk. Bila bar ini menghubungkan dua pulau disebut tambolo.
  5. Adalah bentukan dari proses pengendapan erosi yang di bawa oleh aliran sungai di daerah pantai. Dalam proses sedimentasi/pengendapan ini akan menghasilkan batuan sedimentasi. Batuan sedimen juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tenaga alam yang mengangkut dan tempat sedimen

Jenis-jenis sedimentasi:

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkutnya

  • Sedimen Akuatis : pengendapan oleh air
  • Sedimen Aeris (Aeolis) : pengendapan oleh angin
  • Sedimen Glasial : pengendapan oleh es
  • Sedimen Marine : pengendapan oleh air laut.

Berdasarkan tempatnya

  • Teristris : pengendapan di darat
  • Sedimen Fluvial : pengendapan di sungai
  • Sedimen Limnis : pengendapan di rawa2 atau danau
  • Sedimen Marine : pengendapan di laut
  • Sedimen Glasial : pengendapan di daerah es.
  1. Pengangkutan Material (Mass Wasting)

Pengangkutan material (mass wasting) terjadi karena adanya gaya gravitasi bumi sehingga terjadi pengangkutan atau perpindahan material dari satu tempat ke tempat lain. Proses mass wasting berlangsung dalam empat jenis pergerakan material.

Jenis pergerakan pelan (lambat)

Rayapan merupakan bentuk dari jenis pergerakan lambat pada proses mass wasting. Rayapan adalah gerakan tanah dan puing batuan yang menuruni lereng secara pelan, dan biasanya sulit untuk diamati kecuali dengan pengamatan yang cermat. Rayapan terbagi menjadi beberapa jenis.

  • Rayapan tanah. Yaitu gerakan tanah menuruni lereng.
  • Rayapan halus. Yaitu gerakan puing batuan hasil pelapukan pada lereng curam yang menuruni lereng.
  • Rayapan batuan. Yaitu gerakan blok-blok secara individual yang menuruni lereng.
  • Rayapan batuan gletser (rock glatzer creep). Yaitu gerakan lidah-lidah batuan yang tercampak.
  • Solifluksi (solifluction). Yaitu aliran pelan masa batuan yang banyak mengandung air menuruni lereng di dalam saluran tertentu.

Jenis pergerakan cepat.

Jenis pergerakan ini dapat dibagi sebagai berikut :

  • Aliran tanah. Yaitu gerakan berlempung atau berlumpur yang banyak mengandung air menuruni teras atau lereng perbukitan yang kemiringannya kecil.
  • Aliran lumpur. Yaitu gerak puing batuan yang banyak mengandung air menuruni saluran tertentu secara pelan hingga sangat cepat.
  • Gugur puing. Yaitu puing-puing batuan yang meluncur di dalam saluran sempit menuruni lereng curam.

Longsor lahan (landslide).

Gerakan yang termasuk dalam kategori ini merupakan jenis yang mudah diamati, dan biasanya berupa puing massa batuan. Gerakan tersebut dapat dibagi menjadi:

  • Yaitu gerakan penggelinciran dari satu atau beberapa unit puing batuan, atau biasanya disertai suatu putaran ke belakang pada lereng atas di tempat gerakan tersebut terjadi.
  • Longsor puing. Yaitu peluncuran puing batuan yang tidak ter padatkan, dan berlangsung cepat tanpa putaran ke belakang.
  • Jatuh puing. Yaitu puing batuan yang jatuh hampir bebas dari suatu permukaan yang vertikal atau menggantung.
  • Longsor batu. Yaitu massa batuan yang secara individu meluncur atau jatuh menuruni permukaan lapisan atau sesaran.
  • Jatuh batu. Yaitu blok-blok batuan yang jatuh secara bebas dari lereng curam,

Amblesan (subsidens).

Amblesan yaitu pergeseran tempat ke arah bawah tanpa permukaan bebas dan tidak menimbulkan pergeseran horizontal. Hal ini umumnya terjadi karena perpindahan material secara pelan-pelan di daerah massa yang ambles.

  1. Denudasi

Adalah proses yang mengakibatkan perendahan relief daratan akibat longsor, pengerjaan manusia dan lain sebagainya.

Tanah (Pedosfer)

Tanah (Pedosfer) yaitu suatu benda alam yang menempati lapisan kulit bumi yang teratas dan terdiri atas butir tanah, air, udara, sisa tumbuh2an dan hewan, yang merupakan tempat tumbuhnya tanaman.

Sebagai tempat tumbuhnya tanaman, peranan tanah yaitu sebagai tempat tegaknya tanaman, tempat menyediakan unsur-unsur makanan, air, dan tempat menyediakan udara bagi pernapasan akar. Kehidupan tanaman sangat ditentukan oleh sifat-sifat tanah, yang merupakan lingkungan hidup sistem perakarannya.

 

Lapisan Tanah

Dalam garis besarnya lapisan tanah itu dapat dibagi menjadi empat, yaitu:

  1. Lapisan Tanah Atas.

Lapisan ini tebalnya antara 10 cm – 30 cm, warnanya cokelat sampai kehitam-hitaman, lebih gembur, yang disebut tanah olah atau tanah pertanian. Di sini hidup dan berkembang biak semua jasad hidup tanah dan merupakan lapisan tanah yang tersubur sebagai tempat hidupnya tanaman. Warna hitam atau cokelat dan suburnya tanah disebabkan oleh bunga tanah.

  1. Lapisan Tanah Bawah.

Lapisan tanah kedua ini tebalnya antara 50 cm – 60 cm, lebih tebal daripada lapisan atas, warnanya kemerah-merahan. Lebih terang atau lebih muda, dan lebih padat. Lapisan tanah ini sering disebut dengan tanah cadas atau tanah keras. Di sini kegiatan jasad hidup berkurang. Tanaman berumur panjang, yang mempunyai akar tunggang yang dalam dapat mencapai lapisan tanah ini.

  1. Lapisan Bahan Induk Tanah.

Lapisan tanah ketiga ini warnanya kemerah-merahan atau kelabu, keputih-putihan. Lapisan ini dapat pecah dan diubah dengan mudah, tetapi sukar ditembus oleh akar. Di lereng2 gunung lapisan ini sering kelihatan dengan jelas, di mana lapisan di atasnya telah hanyut oleh hujan.

  1. Lapisan Batuan Induk.

Lapisan yang keempat ini disebut batuan induk. Masih merupakan batuan pejal, belum mengalami proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan beberapa proses dan memakan waktu yang lama. Di pegunungan sering kelihatan, tetapi tumbuh-tumbuhan tak dapat hidup.

Terjadinya Tanah

Tanah terjadi dari batuan induk, kemudian berubah menjadi bahan induk tanah, dan berangsur-angsur menjadi lapisan tanah bawah, yang akhirnya membentuk tanah atas dalam waktu yang lama sekali. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah, yaitu:

  1. Sinar matahari
  2. Air
  3. Udara
  4. Tumbuh-tumbuhan
  5. Makhluk hidup
  6. Jasad hidup dalam tanah.

Jenis Tanah

Jenis-jenis tanah, yaitu:

  1. Tanah Vulkanis, yaitu tanah yang berasal dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh letusan gunung berapi. Tanah ini terdapat banyak di sekitar gunung berapi.
  2. Tanah Kapur, yaitu tanah yang tembus air, tanah ini kurang subur, dan banyak terdapat di pegunungan kapur.
  3. Tanah Laterit, yaitu tanah vulkanis yang telah kena proses pelarutan karena hujan yang banyak serta suhu yang tinggi, sehingga warnanya dari kelabu berubah menjadi kemerah-merahan.
  4. Tanah Padzol, yaitu tanah vulkanis yang terkena hujan banyak, tetapi dengan suhu yang rendah, dan banyak terdapat di daerah pegunungan. Warnanya kekuning-kuningan.
  5. Tanah Margalit, yaitu tanah yang terjadi dari batuan yang banyak mengandung kapur dengan pengaruh hujan yang tidak merata sepanjang tahun, sehingga warnanya berubah menjadi hitam.
  6. Tanah Terrarosa, yaitu tanah yang terbentuk karena hasil pelarutan batuan kapur, tanah ini banyak ditemukan di dasar-dasar lembah dan dolina-dolina pegunungan kapur.
  7. Tanah Liat, yaitu jenis tanah yang memiliki butiran yang halus, dan bentuknya berupa lempeng sifat dari tanah ini, bila kena air sangat lekat dan jika kering menjadi keras dan pecah-pecah.
  8. Tanah Napal, yaitu tanah liat yang tercampur dengan batu kapur.
  9. Tanah Kaolin, yaitu jenis tanah liat yang baik untuk membuat barang-barang keramik.
  10. Tanah Rawang (organosol), yaitu tanah yang terbentuk dari sisa tumbuh-tumbuhan dan terdapat di daerah yang berpaya-paya dan selalu tergenang air.
  11. Tanah Padas, yaitu tanah yang padat, akibat mineral-mineral yang dikeluarkan oleh air dari lapisan bagian atas tanah.
  12. Tanah Aluvial, yaitu tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai. Tanah ini bersifat subur sehingga baik untuk pertanian.
  13. Tanah Pasir, yaitu tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk. Tanah ini sangat miskin dan kadar air di dalamnya sangat sedikit. Tanah pasir yang terdapat di pantai-pantai pasir disebutsand dune. Contohnya pantai Parangtritis, Yogyakarta.
  14. Tanah Humus (Bunga Tanah), yaitu tanah yang terjadi dari tumbuh-tumbuhan yang telah membusuk. Tanah yang mengandung humus bersifat sangat subur dan umumnya berwarna hitam.
  15. Tanah Lempung (debu), Yaitu tanah yang tidak mudah merembaskan air. Tanah lempung lebih berat daripada tanah pasir, tetapi lebih ringan daripada tanah liat. Butir-butirnya lebih halus daripada tanah pasir, tetapi lebih longgar daripada tanah liat.

Tingkatan-tingkatan dalam Proses Perubahan Tanah :

  1. Stadium Embrional : tanah yang masih berupa batuan segar.
  2. Stadium Yuvernil : tanah muda remaja yang belum begitu produktif.
  3. Stadium Veriil : tanah dewasa yang produktif
  4. Stadium Seriil : tanah sudah tua dan kurang produktif.

Batuan

Batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: 1) Batuan Beku, 2) Batuan Sedimen, 3) Batuan Metamorf (malihan)

  1. Batuan Beku

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang mendingin menjadi padat. Berdasarkan tempat pendinginannya ada tiga macam batuan beku, yaitu:

Batuan Beku Dalam.

Batuan ini disebut juga batuan beku plutonik (batuan beku abyssis), terjadinya jauh di bawah permukaan bumi, berasal dari magma yang mendingin. Pendinginan sangat lambat, sehingga berlangsungnya proses kristalisasi sangat leluasa. Oleh karena itu, batuan beku dalam terdiri atas kristal2 penuh, mempunyai struktur (susunan) holokristalin atau granitis. Contohnya : batu granit, diorit, gabro dan seynit.

Batuan Korok.

Batuan ini terbentuk di dalam korok-korok atau gang-gang di dalam kulit bumi. Karena tempatnya dekat permukaan, pendinginannya lebih cepat. Itulah sebabnya batuan ini terdiri dari Kristal besar, Kristal kecil, dan bahkan ada yang tidak mengkristal, yaitu bahan amorf. Contohnya : granit porfir dan diorit porfirit.

Batuan Leleran/Beku Luar.

Batuan ini terbentuknya di luar kulit bumi, sehingga turunnya temperatur cepat sekali. Zat-zat dari magma hanya dapat membentuk kristal-kristal kecil, dan sebagian ada yang sama sekali tidak dapat mengkristal. Contohnya : liparit dan batu apung.

  1. Batuan Sedimen

Bila batuan beku lapuk, bagian- bagiannya yang lepas mudah diangkut oleh air, angin, atau es dan diendapkan di tempat lain. Batuan yang mengendap ini disebut batuan sedimen. Batuan ini mula2 lunak, tetapi lama-kelamaan menjadi keras karena proses pembatuan.

Dilihat dari perantaranya batuan sedimen dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

  • Batuan Sedimen Aeris atau Aeolis. Pengangkut batuan ini adalah angin, contohnya: tanah los, tanah turf, dan tanah pasir di gurun.
  • Batuan Sedimen Glasial. Pengangkutan batuan ini adalah es. Contohnya : moraine (moraine).
  • Batuan Sedimen Akuatis. Pengangkutan batuan ini adalah air. Contohnya: Breksi (Brecci) adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu-batuan yang bersudut tajam yang sudah melekat satu sama lain. Konglomerat adalah batuan sedimen yang terdiri dari batu-batuan yang bulat-bulat yang sudah melekat satu dengan yang lainnya. Batu Pasir adalah batuan sedimen yang berbutir-butir dan melekat satu sama lain.

Dilihat dari tempat pengendapannya ada tiga macam batuan sedimen, yaitu:

  • Batuan Sedimen Lakustre. Adalah batuan sedimen yang diendapkan di danau. Contohnya : turf danau, tanah liat danau.
  • Batuan Sedimen Kontinental. Adalah batuan sedimen yang diendapkan di daratan. Contohnya : tanah los, tanah gurun pasir.
  • Batuan Sedimen Marine. Adalah batuan sedimen yang diendapkan di laut. Contohnya : lumpur biru di pantai, endapan radiolarian di laut dalam dan lumpur merah.
  1. Batuan Metamorf (malihan)

Baca Materi Selanjutnya: Materi 10.6 DINAMIKA ATMOSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

Batuan ini merupakan batuan yang telah mengalami perubahan yang dahsyat secara kimiawi. Asalnya dapat dari batuan beku atau batuan sedimen. Batuan metamorf dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

  1. Batuan Metamorf Kontak Batuan ini terjadi akibat suhu yang sangat tinggi. Biasanya terletak dekat dengan dapur magma. Contohnya : marmer, dan batu bara.
  2. Batuan Metamorf Dinamo. Batuan ini terjadi karena tekanan yang tinggi dan dalam waktu yang lama, disebut juga metamorf kinetik. Contohnya: batu asbak, antrasit, schist dan shale.
  3. Batuan Metamorf Pneumatolitis Kontak Terjadi karena pengaruh suhu yang tinggi dan mendapat tambahan gas lain pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Contohnya, batu permata dan topas.

___________________________________