Materi HOT: Perbedaan yang Saling Menyeimbangkan antara Kerak Benua dan Kerak Samudra

Mengapa bumi kita tersusun dari daratan dan lautan, kerak benua dan kerak samudra, mengapa ada lembah yang rendah dan ada penggunungan yang tinggi, ada laut yang amat dalam (palung) dan ada gunung yang amat tinggi. Seolah ini bagian dari firman Tuhan yang tersirat (mutasabihat) bahwa Ia menciptakan alam semesta ini berpasang-pasangan, dan saling menyeimbangkan satu dengan lainnya.

K2
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/12/K2_2006b.jpg

Jika kita perhatikan puncak gunung tertinggi di dunia dari permukaan laut: Everest, pegunungan Himalaya, Wilayah Nepal dan China, dengan ketinggian 8.850 meter (29.035 kaki). Gunung tertinggi ke-2 K2 (Godwin Austen), pegunungan Karakoram, di wilayah Pakistan dan China, 8.611 meter (28.250 kaki).

Sementara palung terdalam di dunia Palung Mariana atau Palung Marianas terletak di dasar barat laut Samudra Pasifik, sebelah timur Kepulauan Mariana memiliki kedalaman maksimum 10.911 meter (35.798 kaki). Dan palung terdalam kedua adalah Palung Tonga terletak di Selatan Samudra Pasifik, Selandia Baru dengan kedalaman 10.882 meter (35.702 kaki). Titik terdalamnya dikenal sebagai Deep Horizon. Palung ini terletak di ujung utara zona subduksi Kermadec-Tonga. Zona subduksi ini yang paling aktif di mana Lempeng Pasifik bersubduksi di bawah Lempeng Tonga dan Lempeng Indo-Australia. Palung Tonga memanjang di utara-timur laut dari Kepulauan Kermadec utara dari Pulau Utara Selandia Baru. Palung ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dari generator radioisotop termoelektrik dari misi Apollo 13 yang dibatalkan.

Baca: 10 PALUNG LAUT TERDALAM DI DUNIA

Menarik untuk menjadi pokok bahasan pada postingan kali ini. Bagaimana pandangangan Geografi, utamanya Geologi dalam menyingkap persoalan ini. Palung terdalam lebih dalam dari tingginya gunung tertinggi, bukan berarti yang berpasang-pasangan harus benar-benar seimbang, karena faktanya, jumlah laki-laki lebih sedikit dibandingkan jumlah perempuan.

Teori Pratt’s

Pratt’s mengemukakan teori ini pertama kali tahun 1859. Ia mengemukakan bahwa adanya kelebihan massa di atas daratan dikompensasikan oleh adanya kekurangan masa di dasar laut. Akan tetapi densitas batuan yang menyusun daratan lebih kecil daripada densitas batuan yang menyusun lautan. Dengan kata lain adanya perbedaan ketinggian daratan dan lautan adalah karena perbedaan kepadatan batuan yang menyusun kerak bumi di kedua bagian bumi tersebut.

Pembuktian empiris dari teori Pratt’s ini ia menggunakan percobaan dengan memasukkan beberapa logam yang tidak sama berat jenisnya. Pada penampang dan beratnya dibuat sama, Pratts mengapungkannya pada air raksa. Dari percobaan tersebut ternyata logam yang bobot jenisnya lebih besar hanya sedikit tersembul di atas permukaan air raksa, sedang logam yang lebih ringan tidak banyak tenggelam di bawah permukaan air raksa. Analoginya membuktikan bahwa Himalaya merupakan isostrasi (kedudukan seimbang) dari lautan Atlantik.

Teori Airy’s

Airy’s tidak puas dengan kesimpulan Pratt’s bahwa Gunung Himalaya yang begitu tinggi terbentuk hanya karena menurunnya palung-palung laut yang sangat dalam. Ia melakukan percobaan empiris hampir sama dengan Prett’s, tetapi dengan logam yang sejenis dan ketebalan yang berbeda, dengan asumsi perbedaan densitas batuan di permukaan bumi tidak begitu berpengaruh.

Ternyata logam yang lebih tebal tersembul lebih tinggi dari pada logam yang tipis. Pegunungan yang tinggi akarnya akan masuk jauh ke dalam bumi dibandingkan dasar laut yang belum sebanding. Berdasarkan asumsi tersebut teori Airy ini lebih di kenal dengan teori akar pegunungan (The Roots of Mountain Hypothesis of isostasy).

Teori Airy's
Teori Airy’s tentang adanya Isostasi

Pendapat Airy ini yang paling banyak dianut oleh ahli Geologi hingga saat ini. Meski pandangan Pratt’s tidak juga ditolak, karena pada kenyataannya batuan penyusun kerak bumi tidak sama densitasnya.

“Bukankah Kami telah menjadikan Bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?,” Surah An-Naba’ Ayat 6-7.

Kesimpulannya adalah kerak benua lebih tinggi dari kerak samudra dan kerak benua juga lebih dalam akarnya dari kerak samudra. Semakin tinggi gunungnya semakin dalam akar yang menujam ke dasarnya, semakin dalam lautnya semakin tipis kerak buminya. Bumi akan terus mencari letak keseimbangannya dengan terus bergeser lempeng-lempengnya.

Baca Materi 10.5 DINAMIKA LITOSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN

Sumber: Dr. Ir. Much. Munir, MS, “Geologi & Mineraogi Tanah”, Pustaka Jaya, Jakarta 1996

Pembahasan Soal Olimpide Geografi Tahun 2018 No. 99, 100

Pada postingan pagi ini coba membahas soal seleksi olimpiade geografi Kabupaten tangerang 2018, soal dua nomor terakhir saja.

yang belum punya soalnya silahkan download pdf di bawah ini.

bahasan soal
Soal no. 99 dan 100

Soal nomor 99

Buat jawab soal No. 99 sebarnya cukup mudah. sedikit pake imajinasi dan matematika dasar. Titik A dan B membentuk sudut kompas 45 derajat. (maksudnya mungkin azimuth 45 derajat, karena jika menggunakan back azimuth tidak ada jawabannya) jarak A dan B 200√2.

Artinya titik A dan B adalah sisi miring dari sebuah segitiga sama kaki dengan dua kaki yang sama panjang dan siku-siku. Jadi kita cukup mengunakan rumus pitagoras.  a^2+b^2=c^2  atau karena kedua kakinya sama rumusnya dapat ditulis 2(a^2)=c^2

jawaban 99

Gbr Jwb99
Gambar Jawaban

Jadi jawaban nomor 99 adalah: (c)

Soal nomor 100

Menjawab soal nomor seratus cukup mudah tinggal perhatikan dengan seksama saja. Karena gak mungkinkan soal diberikan grid tambahan. tapi untuk pembuktian perhatikan gambar di bawah ini.

gambar soal no 100 seleksi olimpiad goe
Soal nomor 100 dengan grid

Jawaban: (c)

cuma kritik untuk pembuat soal, mengapa tidak diberikan tanda koma,

(31,3, 46,3)

 

Guru Zaman Now

Perlu kita diskusikan kembali makna seorang GURU, dalam abad informasi yang bermandi cahaya pengetahuan. ini adalah refleksi, opini penulis tentang guru. Sebuah profesi yang penulis jalani sendiri, untuk mengajak bersama-sama bercermin.

guru zaman now
Workshop pembuatan naskah soal USBN SMA Provinsi Banten 2018

Sejatinya guru adalah “digugu lan ditiru”

Dalam filosofi Jawa guru itu harus dapat diguru, artinya perkataan guru harus dapat dijadikan panutan, atau dapat diikuti. Selain perkataanya harus dapat dijadikan pijakan perkataan seorang guru juga harus dapat diikuti, ditiru, diimitasi. Oleh siapa? Oleh murid-muridnya. Siapa murid-muridnya? Orang yang menganggapnya guru.

Rama Cluring

Dalam novel arus Arus Baliknya Pramoedya Ananta Toer, ada disebut sosok yang bernama Rama Cluring, seroang guru pencerita. Ia banyak “mengoceh” tentang kejayaan Majapahit jaman dahulu, tentang armada lautnya yang besar, kapal kapalnya yang besar, kejayaanya yang besar, hingga mampu menguasai nusantara, bahkan sanggung berlajar sampai Negeri Atas Angin. Menghardik dan mencela kerajaan Tubah pada masanya yang hanya bias membangga banggakan nenek moyangnya tanpa pernah dapat menyamai nenek moyangnya tersebut.

Rama Cluring adalah pigur yang sangat disegani di Desa Awis Krimbil, Desa Nelayan di pesisir Tuban. Sebagian orang mengatakan Rama Cluring gila, tapi murid-muridnya sangat menghormatinya. Mengiyakan bahwa yang dikatakan Rama Cluring benar, dan mengikutinya. Salah satu muridnya adalah Galeng, tokoh utama dalam novel itu. Galeng menjadi sosok yang besar karena menjadi panglima yang dikirim kerajaan-kerajaan Jawa, Sulawesi, Sumatra untuk memerangi Peranggi (Portugis) di jantung kekuasaanya waktu itu, Malaka.

Kebesaran Geleng tidak lain adalah buah dari ajaran guru, Rama Cluring.
Masih adakah sosok guru Jawa setelah Rama Cluring? Yang diguru dan dituru. Peradaban Hindu Budha mungkin kian redup setelah masa Rama Cluring pada Novelnya Pram, namun guru-guru yang lain dari peradaban yang lain terus berdatangan. Selain yang tentu saja sudah kita kenal, Para Wali penyebar Islam, murid-muridnya para Wali yang sengaja disebar keseluruh pelosok Nusantara, meraka semua adalah sosok guru dalam filosofi Jawa.

Ing ngarsa sung tulodho

Indonesia juga punya sosok guru Jawa sebagai pahlawan nasional, kata-katanya digugu dan ditiru hingga saat ini, “tut wuri handayani” jadi semboyan bagi pendidikan nasioanl. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat nama aslinya, dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Lahir di Yogyakarta, tanggal 2 Mei 1889. Seorang ningrat Jawa, seorang terpelajar sempat “makan bangku” Stovia, penulis, wartawan handal, organisatoris, termasuk pendiri Boedi Oetomo, dan guru. “Een voor Allen maar Ook Allen voor Ean.” dalam Bahasa Indonesia, “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga.” Salah satu tulisannya yang terkenal. Sebagai seorang guru Ki Hajar Dewantara bahkan mungkin telah menginspirasi banyak orang, bahkan seluruh rakyat Indonesia.

Ing ngarsa sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,

arti bebasnya, seorang guru harus dapat tampil di depan, di depan murid-muridnya, di depan masyarakat, di depan mimbar, di rumah, di pasar, dimana saja sosok guru harus dapat tampil di depan untuk dapat memberikan perkataan, wejangan, tingkah laku, perbutan yang dapat menjadi contoh, teladan yang dapat diimitasi oleh siapa saja. Tidak hanya harus dapat tampil di depan guru juga harus dapat mengayomi, merangkul, mencintai, mengasihi, memberikan perhatian dan membakar semagat orang-orang yang ada disekelilingnya. Guru juga harus dapat memberikan motivasi, memberikan dorongan untuk maju.

Ki Hadjar Dewantara telah mamaknai lebih tentang guru dari sekedar guru pencerita era Kerajaan Demak, atau guru seperti Rama Cluring. Guru dalam diri Ki Hadjar Dewantara adalah sutradara sekaligus pelaku, motivator sekaligus praktisi. Guru tradisonal sekaligus moderat.

Sejatinya guru adalah mengajar

Mengajar adalah dari kata dasarnya “ajar” yang medapatkan awalan “me”, yang artinya dengan sengaja melakukan ajar. Awalan “me” merupakan awalan yang berfungsi untuk membentuk kata kerja. Awalan “me” dapat juga membuat arti “membuat jadi”, atau “mengerjakan dengan alat”, atau bermakna “mengumpulkan.” Kata “ajar” menurut KBBI V, kata nomina yang menunjukkan petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (dituruti). Kata “ajar” yang mendapatkan akhiran “an” artinya menjadi nasihat; petuah; petunjuk.

Tugas guru adalah mengajar. Dalam makna yang serampangan maknanya menjadi seorang guru melakukan ajar kepada orang lain, atau membuat jadi ajar pada orang lain, atau mengerjakan dengan alat ajar, dan atau mengumbulkan ajar. Keempat makna ini mestinya pada pada tugas seorang guru.

Makna “ajar” sendiri dalam penggunaannya yang lebih luas maknanya dapat menjadi sopan santun, etika. Seperti dalam kata “kurang ajar” yang maknyanya “tidak sopan; tidak tahu sopan santun”. Jadi pada konteksnya (1) guru dapat saja memberikan ajaran atau nasihat atau petuah atau petunjuk pada orang lain, atau (2) guru menjadikan orang lain menjadi sopan dan santun, beretika, atau (3) melakukan dengan alat yang namanya ajaran, atau seorang (4) guru harus mengumpulkan etika kesopanan dan kesantutunan.

Etika kesopanan dan kesantunan adalah sebuah produk budaya, merupakan hasil daya cipta manusia. Etika ini bersifat dinamis bergantung pada perubahan nilai dalam masyakat. Dapat bersifat lokal saja atau dapat pula menjadi global karena dunia yang kian mengglobal. Dapat terus hidup, abadi atau juga hilang terganti atas nama aktualisasi. Karena etika adalah sebuah produk, tentu adalah orang-orang yang membuat. Lalu siapa yang membuat etika? Apakah semua orang dapat membuat etika.

Orang gila jadi guru

Satu hari pernah di satu jembatan kecil, namun dengan lalu lintas yang ramai, tidak hanya kendaraan kecil, tapi kendaraan besar seperti truk container juga ikut melewatinya, di Jalan Prancis, Desa Benda, Kota Tangerang, sorang gila berdiri di tengah jembatan menghadang mobil yang akan lewat dan memberinya lewat, begitu seterusnya. Sopir-sopir entah atas niatan apa satu persatu memberikan orang gila tersebut uang recehan.

Tentu bukan sedikit uang receh yang dikumpulkan orang gila tersebut, karena jalan itu sungguh ramai. Di dekat situ ada tukang pangkalan ojek, yang ternyata beberapa tukang ojek telah memperhatikan aksi orang gila tersebut. Besoknya bukan lagi orang gila yang berdiri ditengah jalan, tapi para tukang ojek secara bergantian berdiri ditengah jalan memungut uang recehan. Bahkan kini berdiri ditengah jalan memungut uang recehan telah terjadwal dengan baik, dengan system shift, antara jam dan hari.

Bahkan tidak hanya berlaku di jembatan Jalan Prancis, hampir seluruh tempat di Jabodetabek ada. Namanya tukang ngatur jalan. Bahkan kini sudah banyak yang menggunakan seragam, dilembagakan.

Kesimpulan premature

Satu hal yang dilakukan oleh orang gila, tidak hanya dianggap lumrah tapi menjadi contoh bagi orang-orang yang waras, apakah dapat kita katakan orang gila telah memproduk satu bentuk etika, karena kemudian orang-orang waras menganggap sopan berdiri ditengah jalan mengutip uang receh dari para sopir yang lewat. Mungkin saja orang gila telah menginspirasi bagi perilaku orang-orang waras. Bukankah cara manusia menguburnya mayat saudaranya adalah meniru burung gagak menguburkan bangkai temannya.

Secara premature dapat kita simpulkan bahwa orang gila atau binatang dapat saja menjadi guru, karena dapat memproduk nilai yang kemudian menjadi ikutan perilaku. Tentu tidak ada orang yang mau mengganggap orang gila atau binatang sebagai guru, meski kadang seorang cerdas dianggap gila. Tapi mengajar adalah proses kesengajaan, bukan proses yang terjadi dengan sendirinya atau unsur ketidaksengajaan. Tidak ada kata “terajar” dalam kamus Bahasa Indonesia, yang adalah kata “terpelajar.” Yang maknanya orang yang sudah mendapatkan pelajaran.

Guru adalah pelaku etika

Guru adalah pelaku etika, sekaligus membuat etika. Syekh Zarnuji, ulama kelahiran Turki, mengarang kitab Ta’lim Muta’alim, sebagai rujukan etika santri dalam belajar. Bagaiman beretika terhadap buku, beretika terhadap guru, beretika terhadap ilmu, dan lain-lain. Kitabnya sampai dengan saat ini masih dikaji di pesantren-pesantren. Etika yang terkandung didalam kita tersebut masih digunakan oleh para santri. Meskipun kitab tersebut banya mendapatkan kritik dari ulama-ulama moderat, namun maknanya guru sebagai sumber etika kesopanan terpancar pada kitab tersebut.

Untuk dapat mengajar seorang guru haruslah menjadi seorang filsuf. Kemampuan untuk mengetahui tiap gejala, memahami gejala-gejala tersebut, melakukan eksperimen, menganalisa, menarik kesimpulan, menilai atas setiap gejala. Guru dituntut untuk memiliki kemampuan tingkat tinggi karena guru harus dapat memformulasikan setiap segala, untuk memahami aneka gejala atau kemampuan metakognisi.

Sejatinya guru adalah mendidik

Ada dikatomi antara istilah “mengajar” dan “mendidik.” Seperti banyak ungkapan beredar. “… guru jangan hanya mengajar tapi harus mendidik.” Seolah ungkapan ini telah mendegrasikan posisi mengajar di bawah mendidik. Mendidik itu agung, mengajar itu biasa-biasa saja.

Mari kita gali lebih dalam. Ketika Indonesia merdeka tahun 1945, Presiden Soekarno mengangkat Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran. Istilah yang digunakan adalah pengajaran bukan pendidikan. Baru pada era demokrasi liberal 1951-1959, 6 September 1950, pada Kabinet Natsir dianggkatlah Dr. Bahder Johan, sebagai Menteri Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan. Pengajaran disandingkan dengan pendidikan dan kebudayaan, kata pengajaran ditempatkan diurutan paling depan yang menandakan kasta yang lebih tinggi (perioritas).

Pada Era Orde Baru 1966-1998 istilah pengajaran telah hilang dari kementrian. Dr. Daud Joesoef dianggkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama era orde baru. Di Era Reformasi, masa Presiden KH Abdurrahman Wahid urusan pendidikan dinaungi sebuah departemen sendiri yaitu Departemen Pendidikan Nasional yang tidak lagi mengurusi urusan kebudayaan. Pada tahun 2011 pendidikan dan kebudayaan di satukan kembali dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Istilah “pengajaran” seolah telah hilang ditelan zaman, mengecil dan menjadi sub makna saja dari istilah “pendidikan.”

Kata “didik”

Kata “didik” dalam KBBI V https://kbbi.web.id/, merupakan rumpun kata kerja bermakna pelihara dan latih. Memelihara adalah pekerjaan yang sangat-dangat membutuhkan kesabaran, ketekunan, ketelatenan untuk mengarahkan. Seorang petani butuh rata-rata seratus hari untuk memelihara dan merawat tanaman padinya. Pada seratus hari itu ada banyak sekali pekerjaan yang harus ia lakukan, mulai dari menyemai bibit padi yang diawali dengan mengolah tanah untuk menyemaian, selama proses penyemaian petani harus membajak seluruh sawahnya agar agar kembali gembur dan menghilangkan tanaman liar.

Ia masih harus memberikan pupuk pada bibit padi semaiannya atas tumbuh hijau. Proses penandur dengan memberi jarak dan barisan yang ideal pada setiap tanduran tunas padinya. Kembali ia harus memberikan pupuk yang cukup.

Setelah tanaman padinya agak besar petani kembali harus membersihkan gulma-gulma (rumput liar) pengganggu, merawat pematang sawahnya agar tidak menjadi sarang hama tikus, menyemprot insektisida jika diperlukan karena hama wereng dan pengerek batang selalu saja datang. Jika padinya mulai berbuah petani harus menjaganya dari hama burung. Sungguh pekerjaan yang tidak sedikit dan membutuhkan ketelatenan sebelum petani dapat memetik hasil panen biji-biji padi untuk mereka makan.

Proses mendidik

Proses mendidik adalah proses memelihara dan merawat, bukan membuat. Tidak seperti nyanyian membuat layang-layang. Ku ambil bambu sebatang, kuraut dan kutimbang, Ku jadikan layang-layang. Membuat layang-layang adalah proses yang pasti, meski juga membutuhkan keahlian.

Usaha keras petani, dengan prosedur yang benarpun kadang kala tidak menghasilkan panen yang baik, karena banyak tantangan alam yang sulit ditebak dan dipecahkan. Jika terjadi hujan lebat yang panjang, sawah petani menjadi banjir, jika terjadi kencang seluruh tanaman padi roboh, harapan akan tinggal menjadi harapan.

Proses mendidik adalah proses memelihara sesuatu yang hidup, yang sebenarnya memiliki kuasa sendiri atas dirinya. Sayang sekali jika kemudian mengukur proses hasil pendidikan disamakan dengan mengukur proses pembuatan pakaian jadi. Dengan standar mutu yang seolah ruang pendidikan adalah pabrik, industri. Karena manusia tidak dapat reject. Apakah proses gagal dari pendidikan kemudian harus dibuang, atau didaur ulang karena reject. Tertolak karena standar mutu.

Jika proses mendidik berarti memelihara seuatu yang hidup, dan mengajar dimaknai sebagai memberikan nasinat atau petuah, atau menjadikan orang lain menjadi sopan. Tentu betul kata mengajari menjadi sub makna dari mendidik. Namun jika mengajar dimaknai sebagai pencarian terhadap nilai-nilai ajar, mengumpulkan etika kesopanan, makna mengajar jauh lebih tinggi dari pada mendidik.

Mendidik mungkin lebih dapat dilakukan oleh banyak orang karena tidak harus menemukan sendiri etika kesopanan, namun untuk mengajar, membuat jadi-ajar. Orang harus terlebih dahulu menjadikan dirinya ajar, dan menemukan sendiri bentuk-bentuk etika kesopanan yang terus berkembang dinamis.

Kata “mengajar”

Kata “mengajar” telah kalah secara politik. Politik belakangan lebih menyenangi kata “mendidik.” Mengajar mengkin hari ini hanya digunakan di sekolah saja. Seperti tidak seorang guru akan berangkat dari rumahnya hendak ke sekolah di tanya, “mau kemana?” jawabannya pasti, “mau ngajar.” Guru juga masih memegang buku pelajaran, mengajar mata pelajaran berdasarkan jadwal pelajaran yang terjadwal mengikuti tahun pembelajaran. Selebihnya tidak.
Dalam Dapodik, tidak ada guru, juga pengajar, tapi pendidik, kata “siswa”pun belakangan sudah diganti dengan kata “peserta didik”, sehingga tidak ada lagi Penerimaan Siswa Baru (PSB), yang ada adalah Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Mendidik atau mengajar bukanlah persoalan, namun tugas guru yang pasti adalah mendidik dan mengajar. Guru adalah orang tua siswa di sekolah, guru bertanggung jawab untuk memelihara dan menjaga tumbuh kembang anak di sekolah dengan mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Anak barus dapat berkembang secara baik, baik fisik maupun mentalnya sehingga berpengatahuan, berketerampilan, dan memiliki sikap yang baik untuk mengarungi hidupnya kelak, memenuhi tugas sosialnya sebagai manusia untuk bermanfaat bagi masyarakatnya.

Sejatinya guru adalah “ibu.”

Yunani

Di Yunani, dahulu para orang tua mengajak anak-anak mereka untuk mengunjungi suatu tempat untuk mempelajari sesuatu untuk kebutuhan mereka. Mereka belajar memahami kehidupan. Semakin lama banyak orang tua tidak lagi dapat meluangkan waktu untuk mengajak anak-anak mereka belajar. Maka dititipkanlah anak-anak mereka pada orang-orang yang memiliki pengetahuan untuk mengisi waktu luang anak-anak mereka belajar dan bermain. Orang-orang yang berpengetahuan ini kemudian yang menjadi pengasuh ini di beri nama “alma mater” yang artinya “ibu pengasuh”, atau “ibu susuan.”

Arab

Orang Arab zaman dahulu, memiliki tradisi memberikan anaknya kepada orang lain untuk disusui. Seperti yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW. Beliau pernah diasuh oleh seorang ibu susu yang bernama Halimatu Sa’diah, perempuan baduy yang tinggal di pengunungan selama empat tahun. Orang arab sengaja menitipkan anak-anak mereka pada orang baduy angar anak-anak mereka mendapatkan kekebalan dari iklim gurun yang tandus. Ibu susuan juga dapat mempeluar jejaring kekeluargaan. Pendekya bagi orang arab ibu susuan adalah guru bagi anak-anak mereka ketika mereka masih kecil.

Peran orang tua

Peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Saat kelahiran bayi, bayi di dekatkan pada dada ibunya untuk memberikan stimulus agar bayi dapat menyusu. Ibu mendidik anaknya sedari kecil, merawatnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Ibu memberikan rangsangan sehingga motorik anak bekerja sempurna, ibu mengajarkan cara berkomunikasi. Orang tua memberikan kepada anaknya cinta dan kasih sayang.

Perkembangan zaman dengan meningkatnya jumlah peran, dan profesi, pekerjaan dan kesibukan, orang tua telah banyak kehilangan waktu luang untuk mendidik anak-anak mereka. Kesibukan pekerjaan memaksa orang tua untuk menyerahkan hak asuh mereka pada orang yang mereka pilih untuk mengajar dan mendidik anak-anak mereka. Guru sebagai orang pintar yang terpilih untuk mengasuh anak-anak adalah “ibu susuan” yang menggantikan peran-peran orang tua yang sesungguhnya.

Kebudayaan

Kebudayaan telah melembagaan tradisi “ibu susuan” menjadi berbagai macam bentuk. Orang Indonesia biasa menitipkan anak-anak mereka pada orang yang pandai bela diri di padepokan, seperti pada cerita-cerita apda film kungfu pada padepokan Sholin ala Tiongkok. Namun makna “padepokan” kini telah bergerser lebih kepada guru-guru spiritual. Ada lagi yang disebut “pesantren.” Pesantren adalah tempat para santri menimba ilmu pada seorang ulama, orang yang pandai dalam bidang agama Islam. Kemudian istilah “perguruan”, seperti perguruan Muhammadiyah atau perguruan Taman Siswa.

Lebih umum sekarang orang menyebut tempat menimba ilmu pada guru adalah sekolah, atau universitas. Sekolah sendiri berasal dari Bahasa latin: skhole, scola, scolae, atau skhola yang memliki arti waktu luang, atau waktu senggang. Sedang universitas orang sering menyebutnya almamater yang bermakna “ibu susu.”
Kewajiban mendidik anak memang kodrati orang tua, namun keterbatasan waktu dan juga pengetahuan memaksa orang tua untuk melepas tanggung jawab asuhnya pada guru sebagai pengganti orang tua.

Sebagai orang tua pengganti, tugas guru tidak lebih dan tidak kurang harus persis sama dengan peran orang tua. Karena memiliki peranan yang sama dengan orang tua dalam tradisi kedudukan guru kurang lebih sama dengan kedudukan orang tua bagi seorang anak.

Sejatinya guru adalah ilmuan

Pantaskah seorang bodoh menjadi guru. Tentu saja tidak, namun dapat saja hal itu terjadi. Jika masyarakat telah menganggap tugas-tugas guru adalah rendah, jika politik mamandang guru dengan sebelah mata, jika orang-orang pintar diam saja dengan kondisi yang seperti itu. Perlahan akan muncul orang-orang bodoh yang diangkat atau menggangkat dirinya menajadi guru.

Lagu “oemar bakri” adalah nyanyiar nyinyir dari pemusik satir Iwan Fals yang menyairkan tentang bagaimana profesi guru telah direndahkan dengan serendah-rendahnya. Guru yang miskin, guru yang ketinggalan zaman, guru yang “cupu,” guru yang penakut.

Rendahnya derajat guru karena terendahan secara struktural, telah telah menjebloskan guru pada lubang yang dalam luar biasa. Lihatlah era tahun 1980 hingga tahun 2000. Universitas pencetak guru pernah dianggap universitas kelas dua. Animo masyarakat yang rendah pada pekerjaan sebagai guru, mengakibatkan universitas pencetak guru menjadi sepi peminat. Dampaknya adalah input calon-calon guru adalah siswa-siswa dengan kemampuan akademik yang biasa-biasa saja atau rendah. Sehingga guru-guru yang dihasilkan oleh universitas-universitas tersebut juga tidak paripurna.

Sungguh celaka jika masyarakat telah mengangkat orang tak berilmu menjadi guru, karena kebodohannya akan menjerumuskan banyak orang. Tengoklah kembali nyanyian yang kerap dinyanyikan siswa kala perpisahan sekolah.

“… Gurulah pelita penerang dalam gulita …”

Sejatinya guru adalah cahaya penerang bagi siswa-siswanya, bagi masyarakat. Jika cahaya itu redup, atau bias, atau mati sama sekali, maka yang terjadi adalah kekacauan luar biasa.

Guru haruslah sorang berilmu

Guru haruslah sorang berilmu, meski belum patut disebut ilmuan. Kerana kerangka barfikir kita tentang ilmuan saat ini adalah orang yang berpakain putih-putih, bekerja di laboratorium, mememukan formula-formula baru untuk menjadi sebuah produk. Guru sekolah Taman Kanak-kanak (TK) haruslah orang yang berilmu, memahami bagaimana tumbuh kembang anak usia TK, tahu bagaimana didaktik metodik yang pas pantas diterapkan pada anak-anak TK, demikian halnya dengan guru Sekolah Dasar (SD). Guru sekolah menengah harus memeiliki tingkatan pengetahuan yang lebih tinggi karena rumpun mata pelajaran mulai berkembang.

Guru haruslah seorang ilmuan

Jika kerangka barfikir kita tentang seorang ilmuan adalah orang yang memiliki komitmen yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, melakukan penelitian untuk menemukan metode-metode baru, yang kemudian dapat dipublikasikan kemudian diterapkan. Dalam tugas kesehariannya guru dapat saja melakukan tugas-tugas ilmuan. Seorang guru geografi SMA misalnya haruslah orang mau terus memperdalam kegeografiannya. Tidak pernah berhenti pada ilmu telah didapat pada bangku kuliah, karena pengetahuan geografi terus berkembang. Sebagai guru dia juga barus melakukan penelitaian tentang tumbuh kembang peserta didiknya sehingga tahu bagaimana harus memformulasikan didaktik metodik yang akan menjadi senjata baginya dalam mengajar.

Tidak patut seseorang menilai sesuatu yang ideal dengan memandang realitas yang belum berjalan seiring, kemudian menghakimi yang ideal itu sebagai sesuatu yang salah. Jika banyak kasus hasil penelitaian yang dilakukan guru berupa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan hasil proses plagiat. Bukan berarti guru salah untuk melakukan PTK. Kesalahan terjadi karena PTK dijadikan syarat untuk guru PNS naik pangkat dan golongan, sehingga berbagai macam cara dilakukan untuk dapat naik pangkat dan golongan. Guru melakukan penelitan haruslah berdasarkan komitmen pribadi tanpa harus diembel-embeli syarat lain-lain.

Tugas mengembangkan ilmu pengetahuan

Meski tugas mengembangkan ilmu pengetahuan dan melakukan penelitian bukanlah amanat undang-undang bagi seorang guru. Karena Undang-undang No. 15 tahun 2005, tengang guru dan dosen, Pasal 1 Ayat hanya menyebutkan bahwa

“Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia … “

tidak ada kata-kata guru harus melakukan penelitian, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tapi hakitatnya adalah orang yang berkecimpung dalam bidang ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hadir atas rasa ingin tahu, naluri ingin tahu inilah yang membuat ilmu pengetahuan terus berkembang.

Tidak mungkin guru dapat mengajarkan kepada peserta didiknya tentang karakter “rasa ingin tahu” yang merupakan karakter ke-9 dari 18 item pendidikan karakter di sekolah, sementara guru tidak memiliki kerakter “rasa ingi tahu,” karena tugas guru hanya mendidik dan mengajar sesuai amanat undang-undang. Sebelum perserta didik mengalami tranformasi karekater “rasa ingin tahu”, telebih dulu guru sebagai “ibu susu”nya harus memiliki kareakter tersebut. Kuda juara tidak lahir dari induk yang pesakitan.

Sejatinya guru adalah “profesional”

Guru “kere”

20 tahun yang lalu banyak guru yang harus mencari tambahan penghasilan dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain, ngojek, berdagang kerupuk, dll, karena penghasilan sebagai guru begitu rendah. Lalu sekarang. Coba kita cari pada mesin mencari google dengan kata kunci “guru ngojek.” Hasilnya adalah:
Gaji Tak Dibayar, Guru Terpaksa Ngojek dan Ngutang di Warung – JawaPos.com.
Sosok Yuni Yesra, Guru Honorer Asal Toraja yang Tewas Saat Ngojek
regional.liputan6.com>read>2016/09/13
Guru Nyambi Ngojek, Tewas Tertabrak KA – PosKota News
poskotanews.com>2016/10/27
Gaji minim, guru honorer nyambi ngojek dan buruh angkut – Koran Perdjoeangan
www.koranperdjoeangan.com

Ternyata kondisinya belum banyak berubah. Pekerjaan sebagai guru dikaitkan dengan kesejahtraan masih jauh panggang dari pada api.

Yang paling dekat untuk memahami profesional adalah kesejahtraan. Guru yang profesioanal adalah guru yang sejahtera. Diterbitkannya Undang-undang Guru dan Dosen, sertifikasi guru dan dosen adalah upaya meningkatkan kesejahtraan guru. Walaupun menghubungan profesional dengan berapa penghasilan yang diterima agak salah kaprah. Namun pada intinya kesejahtraan adalah penunjang utama profesionalitas.

Analogi sepak bola

Dulu kita kenal di Indonesia ada dua kompetisi sepak bola. Kompetisi sepak bola Galatama, merupakan kompetisi pesepak bola profesional, sekarang istilah Galatama tebih umun untuk menyebutkan kompetisi memancing, dan Perserikatan yang merupakan kompetisi amantir. Klub-klub yang bertanding pada Liga Galatama antara lain, Kramayuda Tiga Berlian, Pelita Jaya, Assabab Salim Group, dll. Para pemainnya merupakan para pemain sepak bola profesional, artinya mereka tidak memiliki pekerjaan lain selain bermain sepak bola. Lain dengan Kompetisi Perserikatan yang para pemainya adalah para atlit amatir.

Selain main sepak bola mereka juga bekerja pada instansi-instansi pemerintah. Ternyata kualitas pemain dari masing-masing kompetisi sama saja, tingkat kesejahteraan para pemain juga tak jauh berbeda. Banyak bintang sepak bola Indonesia yang dilahirkan dari dua kompetisi ini, namun untuk presetasi sepak bola tingkat dunia grafiknya terus menurun.

Ada ide kemudian di tahun 1984, digelarlah univikasi dari liga galatama dan kompetisi perserikatan, Liga DUNHILL, dengan memajukan tema profesioanalitas dan liga yang continue, liga tersebut sampai dengan saat ini terus berjalan dengan segala dinamika yang terjadi. Hasilnya juga sampai detik ini belum kita rasakan pada prestasi sepak bola nasional pada kancah internasional.

Dengan terminologi sepak bola di atas dapat kita linierkan bahwa guru yang profesional adalah guru yang hanya semata-mata berpekerjaan sebagai guru, tidak menyambi dengan pekerjaan lain. Banyak guru menyambi pekerjaan lain karena semata untuk memenuhi kebutuhan perut dia dan keluarganya. Keterpaksaanlah yang membuatnya demikian karena pemerintah dan masyarakat belum menjamin secara maksimal kesejahteraan mereka. Namun bukan berarti dia tidak bersungguh-sungguh dalam mengajar. Tidak sedikit orang-orang cerdas dan sukses yang telah dihasilkan oleh guru-guru yang amatir, yang mengajar sambil ngojek.

Profesi adalah panggilan jiwa

Profesi adalah panggilan jiwa. Kesadaran akan “panggilan” ini akan menghadirkan cinta pada pekerjaan yang digeluti. Kecintaan seniman pada seni, akan membuatnya dapat menghasilkan karya-karya seni yang menumental. Kecintaan petani pada ladangnya dapat membuahkan panen yang bagus. Kecintaan guru pada pekerjaannya akan menebarkan cinta pada setiap peserta didiknya. Apakah profesionalisme seperti itu akan berefek langsung pada kesejahtraan. Sulit untuk mencarikan hubungann korelasinya.

Kata profesional nampaknya hanyalah bahasa pasar, untuk memilah mana barang yang layak dan mana barang yang tidak layak. Pasar menghendaki standarisasi mutu selain untuk jaminan dan kepuasan konsumen, juga untuk proteksi. Dengan Undang-undang Guru dan Dosen pemerintah telah membuat standarisasi bagi guru yang harus memiliki empat kompetensi: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional, dan (4) kompetensi sosial. Guru yang telah memenuhi standar-standar ini akan diberikan “cap” berupa sertifikat profesi. Tidak berhenti di situ. Guru yang belum bersertifikat atau yang sudah bersertifikat secara berkala akan diuji mutu dengan instrumem Uji Kometensi Guru (UKG).

Pada kompetensi profesional guru dituntut untuk mengusai tiga hal: (1) penguasan terhapat materi pelajaran, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan pependidikan/ kegururan, (3) penguasaan masalah-masalah kependidikan. Apakah tidak cukup kurikulum universitas keguruan memberikan tiga hal tersebut bagi lulusannya. Sehingga pemerintah perlu membuat standarisasi ulang.

Tunjangan profesi

Jika dipandang secara skeptis peningkatan penghasilan guru dengan permberian tunjangan profesi, adalah motode tebang pilih kerana pemerintah belum mampu memberikan keselahtreraan lebih pada seluruh guru di Indonesia. Jika dipandang secara optimis, yang pasti tunjangan profesi guru telah sedikit mengembalikan gengsi guru sebagai pekerjaan, paling tidak sebagai hayalan dan cita-cita. Terbukti trend penerimaan mahasiswa baru pada universitas penghasil guru mengingkat pesat jumlah pendaftarnya. Optimisnya hal tersebut akan menginkatkan kwalitas input dari univeritas penghasil guru yang tentu saja akan mempengaruhi outputnya.

Profesi guru karena keterbelakangannya dibanding profesi yang lain pernah menjadi profesi alternatif. “Dari pada nganggur lebih elok menjadi guru.” Kemudian seolah siapa saja dapat mengajar dan mendidik, hingga siapa saja dapat menjadi guru. Menjadi guru bukan karena kompetensi yang dimiliki apalagi karena panggilan jiwa. Menjadi guru hanya karena tuntukan ekonomi jauh dari realitas profesional yang sesungguhnya.

Makna profesioanal

Adakah makna profesioanal yang sesungguhnya. Ada beragam makna dari kata “prefesioanal” membelah berdasar orang yang memaknainya. Menurut Tanri Abeng: “Seorang profesioanal harus mampu menguasai ilmu pengetahuan secara mendalam, mampu melakukan kreatifitas dan inovasi atas bidang yang digelutinya serta harus selalu berfikir positif dengan menjunjung tinggi etika dan integritas profesi.” Lain menurut A. Prasetyantoko: “Profesional adalah elemen individu yang meletak dalam rangkaian besar mesin kapitalisme.

Agar tidak terjebak pada kiri dan kanan, mari maknai profesional secara positif, karena ia telah menjadi bagian dari sejarah manusia. Profesioanl adalah orang yang menekuni pekerjaan, pada setiap pekerjaan tentu dibutuhkan keterampilan, dengan terus mengasah keterampilan orang akan menjadi ahli.
Profesional tidak linier dengan kesejahtraan.

Nilai Profesi

Mahal atau tidak harga sebuah profesi bergantung pada hukum ekonomi, atau politik yang dapat menginterfensi hukum ekonomi. Harga beras dapat saja melambung tinggi pada musim kemarau karena kelangkaanya. Tapi pemerintah melaui Bulog dapat penembah suplai beras sehingga jumlah penawaran dapat stabil, atau sebaliknya pada musim panen harga beras akan terun serendah-rendahnya karena penawaran lebih tinggi dari pada permintaan, pada saat itu yang harus dilakukan adalah Bolog melakukan monopoli beli agar permintaan dan penawaran kembali seimbang yang berefek pada kestabilan harga.

Nilai jasa profesi guru akan sampai pata titik terendah ketika seluruh kebutuhan masyarakat akan sekolah telah terpenuhi karena pemerintah membuat kebijakan wajib belajar. Pemerintah telah menggratiskan sekolah, jumlah sekolah bertambah, jumlah guru terus meningkat, guru semakin tidak memiliki posisi tawar. Di sini politik harus hadir kembali untuk mengangkat harga profesi guru dan sekolah.

Sejatinya guru adalah budayawan

Budaya adalah hasil rasa, cipta, karsa manusia. Budaya adalah sesuatu yang dimiliki dan diakrabi oleh masyarakat. Susuatu yang dilakukan, berulang-ulang dilakkan, menjadi nilai, menjadi norma, kemudian terlembagakan oleh masyarakat penganutnya. Budaya adalah cara hidup masyarakat, yang terus berkembang. Budaya merupakan pola hidup menyeluruh, bersifat kompleks, abstrak dan luas. Budaya menentukan perilaku.

Orang yang cakap dalam memahami budaya layak disebut budayawan. Meskipun penggunaan isitilah budayaan menjadi sangat ambigu, karena biasanya orang yang diembel-embeli sebagai budayawan adalah orang yang aneh, memiliki pemikiran yang agak berlainan dengan masyarakat pada umumnya. Namun bukan itu yang kita maksud budayawan pada tuliasan ini. Guru haruslah seorang budayawan, yaitu orang yang pandai memahami budaya, orang yang senantiasa berkecimpung dalam kebudayaan. Kerena pendidikan tidak akan pernah lepas dari kebudayaan. Jika kita analogikan kebudayaan adalah sebuah tubuh, pendidikan adalah darah yang mengalir pada seluruh tubuh, dan guru adalah jantung yang berfungsi untuk memompakan darah tersebut.

UNESCO

UNESCO membarikan garis terang bahwa pendidikan itu adalah proses: (1) learning to know, (2) learning to do, (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Pendidikan itu adalah proses belajar untuk mengatahui, memahami sesatu, belajar untuk melakukan seperti yang orang lain pernah lakukan, belajar untuk menjadi sesuatu, sesuatu yang merupakan bagian dari masyarakat, dan pendidikan mengajarkan bagaimana seoarang anak akan menjadi anggota suatu masyarakat.

Sejalan dengan UNESCO, tujuan pendidikan nasional yang tercermin dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 bahwa

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangasa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan tertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat dan berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Tujunan nasioanal pendidikan bicara tentang peradaban bangsa, peradaban adalah puncak-puncak tertinggi dari kebudayaan.

Koentjaraningrat memberikan pemahaman tentang kebudayaan adalah

“seluruh sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.”

Dimana manusia belajar? Dimana saja manusia dapat belajar, namun formalnya orang belajar adalah di sekolah, pada lembaga pendidikan. Pada siapa orang belajar? Pada siapa saja orang dapat belajar, namun formalnya guru memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengajaran dan pendidikan.

Agar guru tidak keliru dalam memberikan pengajran dan pendidikan serta mentransformasikan ilmu pengetahuan pada peserta didiknya, guru harus memahami kebudayaan lebih dalam dari orang lain pada umumnya. Dari kulit paling luar sebagai elemen tampak, sampai dengan area hitam paling samar dalam struktur kebudayaan berupa sistem gagasan yang ideologis.

Sejatinya guru adalah setengah “nabi”

Dari kesemua tugas guru, ini adalah tugas paling berat yang mau tidak mau akan melekat pada diri seoarang guru. Guru seolah memiliki tugas setengah nabi. Masih ingat pepatah lama, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Meski secara makna bahasa pepatah ini tidak lagi relefan, karena hampir di semua tempat umum tempat buang air kecil selalu berdiri, di mall, di masjid. Namun dalam pemaknaan istilah guru akan selalu menjadi patron, menjadi contoh bagi murid-muridnya.

Stephen Hawking ilmuan yang paling dianggap gemilang abad ini, secara terbuka telah mengungkapkan siapa guru yang telah menginspirasinya. Namanya adalah Dikran Tahta. Tahtalah guru yang telah membuka matanya sehingga ia mencintai matematika. Dibalik orang-orang sukses selalu saja ada nama seorang guru yang telah menjadi tokoh inspirasi.

Nabi Muhammad SAW dalam tugas kenabiannya dengan tegas menyebutkan bahwa paling utama tugasnya sebagai nabi adalah menyempurnakan akhlak, membangun karakter. Untuk itu seorang nabi dibelaki dengan karekter yang paripurna. Membangun karakter juga merupakan tugas pokok seorang guru, jadi dalam hal ini guru seolah juga memiliki tugas “kenabian.”

guru cyber
Internet apakah lebih cerdas dari guru

Guru zaman now

Dapatkah guru di era modern sekarang ini memikul tugas-tugas yang amat berat. Anthony Giddens menggambarkan abad modern sebagai suatu yang sangat mengerikan, sebuah truck besar tanpa kendali, truck besar tersebut siap menabrak pada saja, menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Kondisi ketidakpastian yang telah direkayasa olah manusia sendiri, lewat teknologi yang mereka ciptakan sendiri, “manufactured uncertainly,” dunia tanpa kendali, “run a way.”

Dunia baru sedang mencari bentuknya sendiri, dunia yang flat, tanpa batas-batas negara. Bomb informasi terjadi setiap detik, fakta dan kebohongan menjadi samar. Dunia yang telanjang, tanpa busana, aib yang mestinya ditutupi karena malu telah menjadi prasmanan yang senantiasa merangsang untuk dikonsumsi. Media sosial telah berada di genggaman siapa saja tanpa kecuali, siapa saja dapat bicara apa saja, tak peduli kapabiltas pembicara dan yang dibicarakan. Tanda dan makna menjadi samar, menghablur seperti pelangi.
Mampukah sorang guru menjadi pelita dalam ruang yang bermandi cahaya yang menyilaukan.***

Buat kartu soal dinamis menggunakan Adobe Illustrator Data Variable

 

Halo. Sobat guru. Tentu pekerjaan yang menjemukan jika harus membuat kisi-kisi, soal, sekaligus kartu soalnya, karena akan seperti mengulang-ulang pekerjaan. Kali ini saya mau berbagi cara membuat kartu soal dengan menggunakan softwere Adode Illustrator CS 6.

Pertama kita siapkan kisi-kisi di Microsoft Excel.

 

Beri nama “dataset” pada nama kolom paling kiri, dan jangan ada data yang sama pada data kolom “dataset” data ini akan dirubah jadi data XML. untuk setiap nama kolom jangan gunakan spasi.

Click here to continue reading

Kedua, layout soal pada Microsoft Word menjadi 1 soal untuk tiap halamannya, ukuran kertas A4, landscape.

Lalu print file tersebut sebagai PDF dengan langkan sebagai berikut. Pilih file kemudin Print, pilih printer (Microsoft Print to PDF), kemudian print, lalu save dengan nama file yang kita inginkan.

Langkah ketiga adalah merubah file PDF soal yang kita buat menjadi file gambar berformat JPG. konvert file PDF secara online dengan www.pdftoimage.com PDF to IMAGE converter. upload file PDF yang hasil print PDF dari soal.

setelah proses convert selesai, download data hasil konvert tersebut, simpan pada polder yang kita pilih, kemudian extract pada polder yang sama.

Langkah Ke-5 buka Adobe Illustrator, dan buat file baru dan atur layout seperti di bawah ini atau menurut yang diinginkan.

Kotak berwarna kuning adalah image placeholder (berupa file JPG) yang di insert (place) pada file>place di Illustrator. Kotak ini yang akan kita isi secara dinamis dengan file soal JPG yang telah kita buat. Buat file gambar kotak tersebut dengan Photoshop atau yang lain, dengan ukuran A4, landscape (width: 841.89 px, height 595.28 px). Simpan file IMAGE PLACEHOLDER tersebut pada folder yang sama dengan file-file soal JPG yang kita download dan telah di extract dari converter.

Tahap Ke-6, mulai menggunakan Illustrator Data Variable. atur mode Adobe Illustrator pada automation, pilih image kotak warna kuning (IMAGE PLACEHOLDER), klik Make Object Dynamic, kemudian klik Capture Dataset, pada Variables Menu, Save Variable Library. Simpan pada folder yang kita pilih sebagai XML.

Buka file data XML yang kita simpan dengan Softwere edit text. (saya menggunakan softwere Cede Writer yang di download secara free dari Windows Store).

data

file:///C:/Users/geoni/Dropbox/KBM/PERANGKAT LIVE TIME K13/PENILAIAN/PENILIAN KOGNITIF/KELAS 10/SOAL102/ZPLACHOOLDERXXX.jpg

ini adalah directory file yang akan kita gunakan untuk memasukkan link file soal JPG ke kisi-kisi pada Microsoft Excel.

Langkah ke-7 buka folder soal JPG pada explorer

pilih semua file JPG pada folder tersebut, klik copy path, klik New pada Code Writer, New Dokument>Text. klik paste pada lembar dokumen Code Writer.

rubah teks

"C:\Users\geoni\Dropbox\KBM\PERANGKAT LIVE TIME K13\PENILAIAN\PENILIAN KOGNITIF\KELAS 10\SOAL102\SOAL102-01.jpg"

dengan find/replace. agar teksnya sama dengan teks XML data variable yang kita buat.

file:///C:/Users/geoni/Dropbox/KBM/PERANGKAT LIVE TIME K13/PENILAIAN/PENILIAN KOGNITIF/KELAS 10/SOAL102/SOAL102-01.jpg

Lakukan untuk semua data. hasil sbb.

block seluruh data, kemudian kik kanan, lalu copy. Buka file kisi-kisi pada Excel, paste special, AS Unicode Text pada kolom soal.

Hasilnya sbb.

Blok seluruh tabel, kemudia copy.

Langkah Ke-8 konvert data tabel Kisi-kisi yang yang dicopy tadi secara online dengan http://joaofaraco.com.br/converter/

paste pada lemar paste your data here di joaofaraco, kemudia klik di lembar bawahnya, dan Copy the generated XML, kemudia pada lembar paste it in a text editor and save it as .XML. klik copy.

Buka Code Writer, kemudan New, pilh Text. control A untuk memblok seluruh halaman, kemudian, klik kanan, lalu paste.

ada sedikit yang harus kita modifikasi agar data XML yang kita buat dapat kita upload ke Adobe Illustrator variable.

pada teks

<variable varName="SOAL" trait="textcontent" category="&ns_flows;"></variable>

rubah menjadi

<variable varName="SOAL" trait="fileref" category="&ns_vars;">

karena pada data tersebut tertulis textcontent sedang kita akan memasukkannya sebagai link file.

lalu rubah seluruh data file image.

<p>file:///C:/Users/geoni/Dropbox/KBM/PERANGKAT LIVE TIME K13/PENILAIAN/PENILIAN KOGNITIF/KELAS 10/SOAL102/SOAL102-01.jpg</p>

menjadi

file:///C:/Users/geoni/Dropbox/KBM/PERANGKAT LIVE TIME K13/PENILAIAN/PENILIAN KOGNITIF/KELAS 10/SOAL102/SOAL102-01.jpg

dengan find/replace. membuang <p>____</p> untuk menghilangkan pengaturan paragraf, karena data yang kita masukkan adalah image, bukan teks.

kemudian save file tersebut dengan format XML.

Langkah terakhir buka file kartu soal dalam Adobe Illustrator. klik menu variable kemudian load variable library.  Jika variable XML benar maka sejumlah variable akan masuk pada data variable.

Kemudia pilih “Indikator Pencapaian Kompetensi” pada dokumen Ilustrator, dan pilih “IPK” pada data variable, kemudian klik klik Make Text Dynamic, pada tool di menu variable. lakukan hal yang sama untuk data variable berikutnya hingga placeholder dengan SOAL.

Berikutnya klik Capture Data Set.

Kartu Soal dinamis telah selesai dibuat, tinggal proses print.

Lagi butuh soal geografi kelas 10: Boleh downlad di sini

Tanks for reading.